Showing posts with label CURCOL. Show all posts
Showing posts with label CURCOL. Show all posts

Apr 17, 2017

Kamu Pernah Ikut POPDA?

Halo para blogger yang budiman...!!!

Emang dasarnya blogger amatiran ya kayak gini. Pengen nulis sesuatu tapi males ngetiknya. Kapan kerennya kalau gini terus. Ya sudahlah mau gimana lagi...

Oke...

Saya agak bingung mau mulai cerita dari mana. Hmmm... gini... gini... gini...

Ada yang pernah ikut POPDA gak? Itu loh Pekan Olahraga Pelajar Daerah. Semacam perlombaan untuk para pelajar. Jadi kalau kamu punya prestasi dibidang olahraga, kamu pasti akan diikut sertakan Bapak/Ibu Guru kalian untuk mengikuti POPDA.

Ini pasti yang pernah ikut POPDA bacanya sambil angguk-angguk kepala. Kalau yang gak pernah ikut POPDA pasti mikir POPDA itu makanan apa???

Yah... wajar aja sih ya... karena gak semua siswa jago dibidang olahraga. Pengalaman saya selama ngajar, pasti akan menemui model siswa yang males olahraga. Dia cuma suka jam pelajaran olahraga karena bosan dengan mapel yang lain karena mesti duduk didalam kelas.

Dikasih materi cabang atletik lari 100 meter udah pusing, pengen muntah, mual, serasa mau pingsan. Rasanya pengen neriakin bocah model kayak gini!!!

“Hah!!! Situ hamil ya???”

“Gak Pak!!! Saya kan cowok!!!”

“Mukanya biasa aja, gak usak sok kecantikan gitu!!! Saya geli ngelihatnya!!!”

Disuruh lari 100 meter banyak alasan, ngejar-ngejar gebetan sampai darah titik penghabisan gak ada rasa capeknya. Dasar bocah!!! Apa perlu pas lari 100 meter saya taruh gebetan kamu di garis finis?

Ada-ada aja kelakuan murid jaman sekarang *sifat kebapakannya keluar.

Tahun ini saya dapat tugas jadi official cabang renang. Official renang beranggotakan terdiri 4 Guru. Ssst!!! Jangan berisik!!! Saya tahu pasti ada yang gak percaya kalau saya bisa berenang kan?

Tenang... saya blasteran ikan gabus dan berang-berang. Jadi untuk urusan renang sudah jadi kebiasaan sehari-hari.

Sebagai Guru Penjaskes yang ganteng satu Kecamatan, saya terima-terima aja dijadikan official cabang renang. Tinggal melatih aja apa susahnya kan. Itu pemikiran awal saya.

Kenyataan di kolam berbeda!!!

Beberapa sekolah mengirim muridnya untuk diseleksi tetapi gak tahu kemampuan muridnya sendiri. Sedikit ngawur kalau bisa saya bilang. 

Jepara Olympic Pool

Tiba dikolam renang kelihatannya masih baik-baik saja, masih terlihat meyakinkan. Semuanya pemanasan dipinggir kolam sebelum dimulai seleksi. Ada yang bakar sampah, ada yang bikin api unggun, ada yang bawa obor.

“Kalian semua mau ngapain?”

“Biar panas Pak!!!”

“Kenapa gak ngemut knalpot sekalian!!!???”

Pemanasan dipinggir kolam selesai kemudian anak-anak masuk kekolam renang semua untuk melanjutkan pemanasannya di dalam kolam.

Bravo!!!

Ternyata ada yang takut masuk kolam.

Ada yang berani masuk kolam tapi langsung tenggelam.

Ada yang lari-lari sambil bawa obor dipinggir kolam.

Ini maksudnya apa? Kok ada yang ngirim murid yang gak bisa renang untuk dikut sertakan seleksi renang.

Mungkin Bapak/Ibu Gurunya berpikir asal kirim murid aja lah... entar juga dilatih sama officialnya barang 5 menit 10 menit juga langsung bisa renang.

Eh... Pak... Bu... emangnya muridnya sampean itu anak kodok? Asal nunjuk murid terus dikirim ke kita untuk diseleksi. Lah iya kalau beneran anak kodok tinggal nyemplungin ke kolam. Udah biarin aja entar juga renang sendiri. Ini murid sampean mesti kita apain?

Hah... ada-ada aja...

Harusnya murid yang dikirim memang dasarnya punya kemampuan berenang, jadi kita tinggal mematangkan saja. Bukan mempersiapkan dari awal. Mana cukup waktunya.

Singkat cerita hasil dari seleksi yang ketat. Seketat baju renang mereka. Terpilih juga 4 murid laki-laki dan 1 murid perempuan. 5 anak ini dijadwalkan latihan seminggu 3 kali setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Latihan sudah jalan hampir satu bulan semoga ada yang bisa dapat beberapa medali. Itu harapan kita sebagai official renang.

Kalau sampai gak bisa dapet satupun medali, 5 anak ini rencananya akan kita jual di Tempat Pelelangan Ikan secara kiloan.

Feb 2, 2017

Follbacknya Kaka...

Hay...

Akhirnya saya bisa bikin celotehan yang nggak penting lagi disini. Sebetulnya saya nggak ada kesibukan di awal tahun ini. Saya benar-benar memanfatkan waktu untuk sedikit bersantai sebelum membuat laporan keuangan di bulan Maret nanti. Agak bingung juga mau bahas apa, soalnya memang nggak ada yang menarik untuk dibahas.

Tapi saya mencoba nyari topik yang sedikit memaksa untuk dibagikan kepada pembaca. Paling tidak saya berusaha untuk mengisi beberapa postingan di bulan ini.

Postingan ini saya tulis langsung dari kantor dengan memanfaatkan wifinya lho...

☝ Jadi mau bahas topik apa sekarang?

Sebentar... saya masih berpikir mau bahas apa 🙇

Ah... saya sepertinya kehilangan mood untuk mikir yang berat-berat. Oh ya saya sekarang punya instagram.

Follbacknya Kaka...

Nggak kaget ya?

Nggak tertarik ya?

Oke... saya bisa ngerti kok 😭

Sejak lama saya menjadi pecinta Nokia garis keras dan nggak mau berpaling dari Nokia 1202. Walaupun smartphone merajalela di jual di counter HP, saya nggak pernah tergoda untuk ganti HP. Ini indikasi setia dengan HP lama atau memang saya nggak mampu untuk beli. Cuma ya itulah, saya lebih milih beli susunya Hafizh dari pada mikir HP baru. #AyahHebat #AyahGakButuhSmartphone
 

Sampai-sampai temen sekantor saya mungkin ngerasa gemes sama saya. Bukan karena wajah saya masuk kategori 7 pria ngegemesin versi On The Spot ya. Karena saya dari dulu nggak gaul soal perHPan. Kayaknya kok nggak enak baca perHPan ya, hmmm saya ralat saja. Karena saya dari dulu nggak gaul soal ponsel.

Saya sering dihujat, dibully, dicium. Eh... yang terakhir nggak ya. Apa yang salah dengan HP jadul gitu? Maksud saya walaupun jadul toh fungsinya sama, bisa untuk telfon, bisa untuk SMSan, bisa untuk PHPin selingkuhan juga. Kurang apa coba?

Mungkin yang dimaksud temen saya beli smartphone biar bisa main sosial media. Untuk sosial media sendiri saya agak ngerasa bingung karena saking banyaknya pilihan. Sosial media yang saya punya cuma muka buku atau biar keren orang menyebutnya facebook.

Lhohhh... katanya punya instagram juga?

Tenangkan amarahmu sodara-sodara. Ceritanya gini kenapa saya kok sampai akhirnya bikin akun instagram juga. Pada suatu hari yang panas dan bikin gerah masyarakat Jepara dan sekitarnya. Saya pulang dari sekolah menuju rumah, setelah sampai rumah saya dikejutkan dengan HP yang dibelikan Mama.

Ternyata mertua nggak segalak yang dibayangkan kan 😁

Bisa jadi setelah menginap beberapa malam dirumah kami, Mama merasa iba melihat HP Nokia 1202 yang setiap hari dibawa menantunya kemana-mana.

Emang dasarnya darah gembel, ya saya langsung terima saja HP pembelian dari Mama. Saya nggak ngelihat dari harganya sih tapi namanya pemberian orang tua ya saya sangat menghargai itu. Lha wong HP yang Nokia 1202 itu saja dulu juga pemberian dari Bapak saya sewaktu masih sekolah. Toh masih saya pakai sebelum dapet hadiah HP baru.

Karena dari dulu saya cuma mainin facebook saja, kali ini saya mencoba mendua yang nggak jauh-jauh dari facebook. Saya pikir yang paling deket dari facebook ya instagram. Gitu ceritanya sodara-sodara.

Terus intinya apa?

Ya karena akun instagram saya ini baru dibuat jadi belum banyak followernya. Saya cuma pengen saling follow aja yang kebetulan punya akun instagram gitu...

Jadi tulisan diatas tadi cuma pembuka dari orang fakir follower?

Ya gitulah... pokoknya yuk saling follow...
 👉 @haris_luqman_hakim

Jan 12, 2017

Nak, Jangan Protes Sama Bapak Guru

Beberapa hari terakhir murid-murid saya protes gara-gara jarang olahraga. Yah walaupun mereka protesnya nggak sampai turun ke jalan dan melakukan aksi damai di depan Balai Desa. Yang mereka tahu jam olahraga ya hukumnya wajib olahraga, nggak peduli ini lagi musim hujan. Mereka nggak setuju kalau jam olahraga saya isi dengan materi di dalam kelas.

Murid macam apa ini yang menuntut Gurunya nurut dengan apa yang mereka inginkan. Mereka belum tahu kalau semua nilai olahraga di raportnya ada pada kekuasaan saya. Hahahahahaha... 👿

 
Hujan memang sering turun dalam beberapa hari terakhir ini, dari malam sampai pagi. Pagi sampai malam. Sepertinya hujan sedang semangat-semangatnya membasahi Kecamatan Mayong.

Sekarang SD Negeri Pule Kecamatan Mayong Jepara sedang mendapatkan durian runtuh. Bantuan peralatan olahraga dari Dinas yang nilanya cukup fantastis. Bisa dibilang sekarang untuk peralatan olahraga lebih dari cukup. Makanya anak-anak juga terlihat sedang semangat-semangatnya. 


Nak, Jangan Protes Sama Bapak Guru

Wajar saja, sebelum saya masuk SD sini anak-anak nggak pernah tahu dan jarang mendapatkan materi olahraga yang sebagaimana mestinya. Ini mengingatkan saya pada awal-awal masuk ke sini. Saya sempet ngeluh karena minimnya peralatan olahraga yang dimiliki SD ini. Nggak cuma peralatan, ternyata di Desa ini juga nggak punya lapangan yang layak untuk anak-anak berolahraga. Hanya ada tanah lapang yang nggak seberapa luas dan tanpa perawatan.

Lucunya setiap saya memberikan materi kepada anak-anak, mereka semua jadi terheran-heran dengan semua materi olahraga yang saya sampaikan. Mereka seperti baru menemukan sesuatu yang berbeda. Diajak pemanasan saja mereka kesulitan menirukan gerakan-gerakan yang saya praktikkan di depan mereka.

Saya seperti dibuang ke luar angkasa dan mendapatkan misi ngajar menggunakan Kurikulum 13 anak-anak alien. Dan mereka harus bisa jago olahraga semua sebelum saya ditarik lagi ke bumi.

Suatu ketika saya pernah memberikan materi Lempar Roket. Untuk temen-temen semua yang nggak tahu Lempar Roket itu seperti apa dan nggak tahu Lempar Roket itu kayak apa. Temen-temen tahu Lempar Lembing? 


Nak, Jangan Protes Sama Bapak Guru

Nah... kurang lebih tekhniknya sama dengan Lempar Lembing, yang membedakannya hanya alat yang dipakai saja. Atau bisa baca postingan saya yang berjudul Prosedur dan Cara Lempar Turbo 😝

Ada yang sebelum melempar Roket ngasih tiupan jigong di ujung Roketnya. Saya yakin ini anak pasti keseringan main pesawat-pesawatan dari kertas. Masih ingat kan kalau dulu saat kita kecil main pesawat-pesawatan dari kertas? Sebelum kita terbangkan pasti ujung pesawat kertasnya kita tiup dulu. Saya sendiri juga nggak tahu ritual niup-meniup berpengaruh seberapa besar untuk si pesawat.

Untung saja para pilot kita yang sewaktu kecil suka main pesawat kertas nggak melakukan hal yang sama. Saya nggak pernah lihat ada pilot niup ujung moncong pesawat sebelum mereka menerbangkan pesawat mereka.

Sepertinya sudah cukup postingan kali ini, saya males nulis panjang-panjang karena butuh waktu lagi. Nulis kayak gini aja nyari waktunya susah banget. Bye...👋

Jan 5, 2017

Ngupil Yuk...

Kebersihan sebagian dari iman. Ungkapan ini masih saya pegang teguh sampai detik ini, makanya saya sering banget membersihkan kotoran hidung atau lebih dikenal banyak orang dengan sebutan ngupil. Kata orang-orang membersihkan hidung di tempat umum itu masuk dalam kategori jorok dan sangat menjijikkan. 

Tetapi mereka nggak pernah tahu sensasi dan kenikmatan yang didapatkan. Dibandingkan ngupil saat mandi, ngupil di tempat umum lebih menantang. Karena harus berkosentrasi penuh. Sebelum jari-jemari kita yang lentik bekerja, mata juga wajib ikut mengawasi situasi dan kondisi sekitar.

Bagi upilers (sebutan orang-orang yang hobi ngupil di tempat umum) semua tantangan itu nggak akan ada artinya sama sekali. Yang ada malah rasa panasaran. Semakin situasinya ramai, adrenalin yang timbul juga semakin kuat. Apalagi ditambah letak upil yang sulit dijangkau jari.

Para upilers selalu bermimpi suatu saat nanti akan ada ketersediaan ruangan kusus ngupil untuk kaumnya, bukan hanya menyediakan ruangan kusus untuk para perokok saja. Atau kalau memungkinkan akan ada tempat sampah kusus untuk membuang upil. Jadi nanti kita semua akan menemukan ruangan kusus untuk ngupil di tempat-tempat umum, atau kita nanti akan melihat ada tiga tempat sampah. Tempat sampah kusus organik, non organik dan yang terakhir upil.

Kalaupun ada sebagian orang menganggap ide ini sedikit aneh dan gila, atau malah langsung nggak setuju dengan ide tersebut. Pasti semua orang akan setuju kalau saya bilang upil itu rasanya gurih dan rendah gula.

Kegiatan yang paling menyenangkan saat kita nungguin pacar dandan, nemenin istri belanja, kencan bersama gebetan adalah sambil ngupil. Setuju?

Ngupil Yuk...

Walaupun saya sekarang ini sudah insaf dari kegiatan ngupil di tempat umum setelah mendapatkan tausiah dari istri (bahasa sudah saya haluskan karena sebenarnya saya diomelin). Dia kalau udah ngeluarin tausiah waktu terasa berjalan begitu lama, daripada telinga saya ngeluarin upil mending saya iyain aja.

Pernah saat saya nonton tivi (tentu sambil ngupil) saya diomelin abis-abisan. Saya bukan diomelin gara-gara ngupil pakai remot tivi, tapi karena upilnya saya tempelin di tembok kamar. Gara-gara itulah saya sekarang udah insaf, tapi juga masih sering nyuri kesempatan untuk mencobanya lagi.

Cuma terkadang saya ngerasa geli saat melihat orang yang mempunyai kuku panjang, saya suka membayangkan aja gimana cara mereka ngupil dengan kuku panjang? Terus sisa upil yang nempel di kuku kira-kira apakah akan dijilat?

Atau gimana cara mereka cebok? *ngecek kuku

Oct 12, 2016

Pak Haris Kalau Senam Kayak Perempuan

Hallo...

Untuk kalian yang belum tahu apa pekerjaan saya, sebetulnya tidak penting juga untuk kalian tahu karena peduli amat dengan semua urusan duniawi yang saya lakukan. Tapi demi menjaga ketertiban dunia akhirat saya akan senang hati dan memaksa kalian untuk tahu pekerjaan saya sehari-hari. Bodo amat lah pokoknya, yang penting saya pengen banget kasih tahu kalian semua.

Mau percaya atau tidak pekerjaan saya adalah seorang Guru. *Dhuaaarrrr...!!! langit cerah berubah gelap. Matahari terbit disebelah barat. (Lebay...)

Iya, Guru Mapel Penjasorkes. Atau lebih sering enak dipanggil Guru Olahraga. Selain sibuk bikin marah-marah istri, saya juga disibukkan dengan pekerjaan saya.

Menurut saya Guru Olahraga itu enak, jam mengajarnya tidak sampai siang hari. Selesai KBM saya bisa melakukan kegiatan lain, seperti nyopet di pasar.

Tidak lah ya, saya memang suka bercanda. Kalau mau ditanggapi secara serius juga tidak apa-apa.

Oh ya, beberapa minggu terakhir ini saya sedang mengajarkan Senam Pramuka kepada murid saya. Ada yang tahu Senam Pramuka? *Hening...
Pak Haris Kalau Senam Kayak Perempuan

Memang Senam Pramuka tidak setenar Senam SKJ tapi saya sengaja mengajarkan Senam Pramuka kepada murid saya agar tidak merasa bosan dengan Senam SKJ yang setiap hari jum’at selalu dilaksanakan di depan halaman sekolah.

Sebenarnya ada banyak senam yang bisa saya ajarkan, tapi saya lebih memilih Senam Pramuka. Alasannya adalah saya lebih nyaman dengan Senam Pramuka. Urusan selera hati itu tidak bisa dipaksakan.

Tetapi saya sempet ditegur murid saya sendiri saat mengajarkan Senam Pramuka. Katanya “Pak Haris kalau senam kayak perempuan”

Saya tidak marah karena senam memang... gerakannya... memang kayak perempuan... Mau diapain lagi. Dari jaman Firaun belajar Senam Poco-Poco juga akan terlihat lenggak-lenggoknya.

Kecuali murid saya bilang “Pak Haris kalau senam kayak copet” atau “Pak Haris kalau senam kayak alay”. Nah itu kasusnya beda lagi, ini anak akan langsung saya laporkan ke KPAI (Komisi Perlindungan Alay Indonesia).

Ade Rai yang badannya kekar kayak truk ekspedisi kalau disuruh senam juga akan kelihatan sisi fenimnya. Tidak mungkin terlihat gahar dan sangar.

Gara-gara celotehan murid saya, saya jadi teringat dulu pas kuliah dan mengalami yang namanya masa PPL. Kebetulan kelompok saya PPL di salah satu SMA Negeri. Ini situasi yang membuat bimbang kami semua, disatu sisi darah mahasiswa saat melihat cewek SMA pengennya dijadiin gebetan. Disisi lain kami semua adalah calon Guru yang terhormat sodara-sodara.

Apalagi murid SMA kalau lihat mahasiswa yang PPL malah ada yang sok genit. Hmmm... rasanya pengen saya ambil satu untuk diadopsi jadi pacar angkat.

Dan salah satu kelompok kami yang bernama Karman *Namanya cukup keren untuk calon Kepala Sekolah. Dia hobinya memang suka ngegim, bisa terlihat dari bentuk badannya yang segede gapura kampus kami. Dia berniat untuk mengajarkan senam kepada murid-murid SMA.

Bisa kebayang gak kayak apa?

Waktu itu saya dan Dedi sengaja hanya melihat seberapa jauh kemampuan senam yang dimiiki Karman. Itung-itung ada tontonan gratis, jarang-jarang disekolah ada pertunjukan tukang angkat barbel megal-megol kemayu.

Tidak ada yang salah dengan senamnya, hanya saja ya itu tadi. Terlihat aneh saja melihat lengan gede, wajah penuh dengan keringat hasil lenggokan senam. Maconya jadi hilang seketika.

Jadi mungkin hampir samalah ya apa yang dilihat dan dirasakan murid saya saat saya latih senam. Lain kali saya mesti pakai seragam senam yang seksi sekalian.

Sep 26, 2016

Ketika Aku dan Anakmu Kamu Tinggal Prajabatan

Apakah saya harus merasa senang ataukah saya harus merasa sedih saat saya dan Hafizh ditinggal Prajabatan?

Sekedar informasi, Diklat Prajabatan atau Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan adalah syarat bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Dan ternyata setelah ditinggal istri untuk Prajabatan, ada satu hal yang bisa saya simpulkan. memasak itu ternyata sangat merepotkan. Minggu pertama saya sok jadi pengen masak, karena terinspirasi dari film yang pernah saya tonton judulnya adalah Ratatouille. Saya pikir tikus saja bisa masak enak kenapa saya gak. Hari pertama gagal, hari kedua gagal, dan hari ketiga lagi-lagi gagal lagi. Akhirnya untuk hari berikutnya saya memutuskan untuk bersinggah dari warung satu ke warung yang lain.

Lupakan cerita tikus yang bisa masak enak, nyataanya saya ngiris satu siung bawang merah saja air mata keluar gak ada berhentinya, ngulek sambel saja pakai helm double visor biar gak pedih, goreng ikan saja teriak-teriak histeris gara-gara minyaknya bermuncratan. Bagaimana bisa selama sebulan kedepan saya mampu bertahan, saat itu saya merasa menjadi makhluk lemah di depan bumbu-bumbu dapur.

Andai saja ada biro penyedia jasa istri Infalan mungkin saya sudah pasti menggunakan jasa ini.

Tetapi tetangga saya orangnya baik-baik semua, ada aja yang ngasih saya sayur atau lauk. Mungkin mereka merasa iba dan kasihan sama saya, sebenarnya saya berharap gak cuma bantuan makanan saja tetapi ada gerakan mengumpulkan koin untuk saya. Cuma kayaknya itu terlalu lebay untuk direalisasikan.

Dan selama ditinggal Bunda Prajabatan, untungnya Hafizh gak rewel karena sudah terbiasa nempel dengan saya. Paling gak kami berdua bisa sedikit bersyukur karena gak ada orang yang menguasai remot tivi dalam satu bulan kedepan.

Sebagai rasa syukur kami karena telah terbebasnya kami dari penguasa remot tivi, disuatu malam kami berdua memutuskan untuk menggelar party kecil-kecilan. Undangan kami sebar, tetapi gak semua kami undang. Hanya beberapa kucing-kucing yang sedang ditinggal suaminya nyari ikan asin saja yang dapet undangan.

Dari pada kesepian nungguin suami yang lama gak pulang-pulang dan majikan yang gak pengertian, di tempat tinggal kami sudah siap satu nampan teri pemberian teman yang baru saja pulang dari Karimunjawa untuk camilan. Dengan diiringi lagu Mars Perindo untuk mencairkan suasana malam yang syahdu. Agar telinga gak terasa panas, sesekali Hafizh mengganti lagunya dengan lagu lain seperti Jaranan dan Mentog-mentog. Sebotol susu hangat ditangan membuat Hafizh semakin tambah girang.

Inilah cara pria dewasa dan pria bawah lima tahun yang sama-sama menjalani long distence relationship menghabiskan waktu malam syahdunya. Kami berdua sama-sama memandang langit dan berharap agar pagi jangan cepat datang.

Urusan masak-memasak memang menjadi kendala terberat saya, tetapi untuk pekerjaan-pekerjaan rumah saya masih bisa mengatasinya. Bisa jadi itu karena jiwa babu saya yang sangatlah kental. 
 
Ketika Aku dan Anakmu Kamu Tinggal Prajabatan
 
Setiap malam saat Hafizh sudah tertidur pulas, saya merasakan ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang saya benci tetapi saat gak ada jadi saya rindukan.

Kentut istri.

Iya, ketut istri. Biasanya setiap malam Hafizh dan Bundanya duet kentut maut. Saling sahut-sahutan. Dan gak ada yang mau mengalah. Kalau boleh jujur, sebenarnya saya lebih rela menghirup kentut Hafizh dari pada menghirup kentut istri saya.

Istri saya itu cantik banget. Kalau kita sedang dalam posisi berdua. Kalau diluar rumah ternyata masih banyak yang lebih cantik dari dia. Tetapi kecantikan wajahnya itu hanya dijadikan kamuflase utuk menutupi bau kentutnya.

Saya takut teman sekamarnya di Prajabatan terkena infeksi saluran pernapasan gara-gara dikentutin terus. Dia sudah sangat profesional dalam bidang kentut. Sampai-sampai dia bisa kentut menirukan berbagai macam suara.

Dan saya lihat Hafizh juga mewarisi kemampuan itu dari Bundanya, walaupun belum seprofesional Bundanya. Hanya saja untuk baunya sudah sedikit mendekati. Tinggal menambah jam terbang dan memperbanyak latihan.

Saya sempat merasa sedih ketika Hafizh sakit disaat Bundanya gak di rumah. Badannya terasa panas dan semalaman nangis terus. Itulah kenikmatan menjadi orang tua, ketika anak sakit ternyata kita sebagai orang tua merasa lebih sakit. Buat adik-adik nih kususnya, hormati orang tua kalian yang sudah banyak berkorban untuk kalian. Jangan pernah membuat orang tua kalian merasa sakit karena tingkah buruk kalian.

Untungnya Hafizh hanya demam biasa, selama tiga hari minum obat dari Bu Bidan panasnya sudah turun. Ayo kita pesta lagi Nak...!!!

Aug 8, 2016

Atlet Tarkam Profesional

Rasanya sudah lama sekali saya tidak bisa main sepak bola lagi. Dulu dikampung masih bisa sering main sepak bola atau sekedar melatih anak-anak untuk bermain sepak bola. Sepak bola adalah salah satu olahraga yang saya sukai. Karena menurut saya olahraga sepak bola wajib hukumnya untuk kaum-kaum yang mengaku jantan.
 
Sekarang setelah tidak bisa main sepak bola lagi, ada beberapa olahraga yang sering saya lakukan untuk melemaskan otot-otot saya. Yaitu angkat beban dengan menggendong anak, lari cepat sambil dikejar istri yang tangan kanannya membawa gergaji.
 
Perasaan seumur-umur saya tidak pernah berlari secepat ini seperti saat dikejar istri apalagi tangan kanannya sambil membawa gergaji.

Pesan dari saya adalah jangan suka mainin istri jika tidak mau dibawain gergaji.

Karena saya hobi banget dengan olah raga sepak bola, saya juga sempat menjadi atlet tarkam. Sudah banyak kampung yang saya singgahi untuk bertanding. Kalah, menang, dan imbang juga sudah sering saya rasakan.

Bayu Perkasa adalah nama tim kampung yang saya bela selama remaja belia. Saya heran siapa yang menyumbangkan ide dengan memberi nama tim sepak bola kampung kami dengan nama Bayu Perkasa. Menurut saya Bayu Perkasa malah lebih mirip pabrik obat kuat yang belum terdaftar di BPOM.

Tanpa ada kontrak dan gaji seperti klub-klub profesional, tapi saya bermain dengan sangat profesional. Itu saya buktikan dengan lebih memilih membela Bayu Perkasa di sebuah pertandingan dan membatalkan janji mengantar pacar untuk membeli pembalut.

Entah karena memang saya profesional atau gara-gara tidak mau malu. Biarkan saya dan Allah yang tahu.

Jarak 20 kiloan kami tempuh untuk hanya bisa bertanding dengan tim lawan. Emang bener-bener kampret teman saya yang belum ketahuan sampai detik ini, yang dengan binalnya mencari lawan dengan jarak sejauh ini. Maksud saya adalah kita ini hanya tim kampung, kelas tarkam. Jangankan presiden FIFA, ketua PSSI saja tidak tahu yang namanya tim Bayu Perkasa. Kenapa harus repot-repot nyari lawan yang jauh-jauh. Jika menang gak bawa piala, Kepala Desa juga gak bakal ngarak kita keliling kampung.

Kampungnya jauh dari peradaban kota, dari jalan raya masih masuk ke dalam Kampung, masuk lagi, lagi, lagi, dan lagi. Entah sudah berapa Kampung yang kami lewati untuk bisa menemukan Kampung Curut. Batu kerikilnya saja segede helm standart. Kanan kiri jalan masih banyak pohon-pohon besar dengan suara-suara khas hewan-hewan hutan.

Setelah lelah karena menempuh jarak yang lumayan jauh, sampailah kita di Kampung Curut. Kali ini serius, nama Kampungnya memang Kampung Curut. Namanya saja yang aneh tapi semua penduduknya manusia.

Kami langsung menuju lapangan kebanggaan masyarakat Curut. Seperti lapangan-lapangan yang ada di Kampung pada umumnya. Selain lapangan adalah surganya masyarakat untuk bermain sepak bola, di sana juga akan ditemui berbagai macam hewan ternak. Seperti kambing dan sapi.


Atlit Tarkam Profesional

Kambing dan sapi tersebut tentu tidak ikut berolahraga atau sedang rapat persiapan mengkudeta Pemerintah Desa. Ini adalah salah satu cara alternatif untuk merapikan rumput di lapangan agar tidak tumbuh panjang berlebihan. Kambing dan sapi seperti alat mesin pemotong rumput yang murah meriah tanpa mengisi bahan bakar dan Go Green tentunya. Masalah yang akan timbul hanyalah kotoran hewan tersebut yang bisa mengganggu. Untungnya sapi-sapi dan kambing-kambingnya di bawa pulang karena kesadaran para pemiliknya.

Jangan berharap tarkam akan ada standart waktu 45 menit, kick offnya saja dimulai pukul 16.30. Tanda permainan selesai adalah bedug magrib. Itulah bedanya antara standart tarkam dengan FIFA.

Pemanasan yang dilakukan tim kami juga gak berat-berat amat, hanya menghabiskan sebatang rokok dan sebuah jeruk. Itupun kalau ada jeruk, biasanya alternatifnya adalah permen diselingi dengan candaan kecil sesama pemain. Tidak ada formasi jelas, tidak ada taktik untuk sebuah permainan. Mau pakai 1 kiper dengan 10 striker juga tidak ada yang protes. Pergantian pemain bisa dilakukan sebanyak-banyaknya, kalau perlu pemain yang sudah keluar bisa masuk lagi.

15 menit babak pertama permainan berjalan tidak lancar, saya lihat para pemain Kampung Curut sangat lincah saat mendrible bola dibandingkan saya. Skor sudah 2-0 dengan keunggulan Kampung Curut.

Giliran saya yang mendapatkan bola. Saya berlari kencang sambil mendrible bola, ini kesempatan saya untuk menusuk langsung ke jantung pertahanan yang kosong ditinggalkan lawan. Kemudian mendadak saya menghentikan langkah kaki saya. Bukan... bukan dihadang pemain lawan, tetapi didepan saya ada setumpuk kotoran sapi yang terlihat masih fresh keluar dari pantat sapi.



Atlit Tarkam Profesional

Bola saya gocek ke arah kiri kemudian berhenti lagi. Sekarang saya malah dihadang kotoran sapi lagi dan satu pemain lawan yang mukanya mirip pantat sapi. Tanpa pikir panjang saya balik badan dan dari tengah lapangan bola saya tendang lambung ke arah kiper.

Kampung Curut terlihat sudah biasa dan menguasai lapangan dengan baik, sedangkan tim kami kebingungan karena banyaknya kotoran sapi. Sampai babak pertama selesai keunggulan masih dipegang Kampung Curut. Disela-sela istirahat untuk pertama kalinya tim kami berdiskusi untuk menentukan taktik. Tentu taktik kami tidak jauh-jauh dari candaan.

“Ada ide gak untuk diterapkan di babak ke dua nanti?” Tanya Broto. Broto adalah kapten tim Bayu Perkasa. Dia mengangkat dirinya sendiri sebagai kapten tanpa harus mengikuti pemilihan umum.


"Bagaimana kalau kita pulang saja, lapangan ini sudah banyak dipasang ranjau. Kalau kita paksa main akan banyak lagi korban yang berjatuhan?”

Ini adalah ide terburuk yang pernah saya dengar, pantas saja Yunus tidak pernah mendapatkan kesempatan bermain. Dia tidak bisa menghargai apa yang namanya “Fair Play Tarkam”. Denger-denger sebentar lagi dia akan dideportasi keluar dari kampung kami karena dia tidak masuk kebutuhan tim.

Belum selesai diskusi yang kami lakukan peluit tanda permainan babak kedua dimulai sudah terdengar sangat nyaring. Setan... istirahatnya cuma 5 menit. Anak SD saja istirahatnya 15 menit.

Kami masuk lapangan dengan penuh harapan agar tidak kebobolan lagi, sukur-sukur bisa menyamakan kedudukan. Masih ada 20 menit babak ke dua. 20 menit adalah waktu yang lama untuk saya habiskan bersama kotoran sapi. Bola sudah ada di tengah lapangan, saya bersiap melakukan kick off sembari menunggu peluit wasit.

“Priii...iiit...!!!” Suara nyaring peluit wasit.

Saya masih terheran-heran dengan semua pemain dari Kampung Curut, semangat mereka masih berkobar-kobar tidak pernah padam. Kotoran sapi tidak menjadi pemutus semangat mereka.

Pertandingan berjalan sekitar 15 menitan babak ke dua, Kampung Curut berhasil memperbesar keunggulannya menjadi 3-0. Umpan lambung dari sayap kiri berhasil ditanduk striker mereka.

Logikanya saya dan teman-teman harusnya kecewa karena kami tertinggal lagi, tapi tidak untuk sore itu. Kami semua malah tertawa sampai-sampai air mata dan ketuban saya keluar. Bagaimana kita tidak tertawa terpingkal-pingkal, jidad striker dari Kampung Curut kotor gara-gara bola yang diumpan teman satu timnya terkena tai sapi.



Atlit Tarkam Profesional

Dan anehnya pemain dari Kampung Curut merasa biasa-biasa saja, tidak merasa aneh atau jijik. Mereka semua malah tambah menggila, sedangkan saya dan teman-teman hanya bisa pasrah setiap ada pemain lawan yang drible bola. Mau di hadang juga percuma, sudah banyak tai sapi yang nempel di bola. Dimenit-menit akhir Kampung Curut berhasil menggenapkan keunggulan menjadi 4-0.

Pertandingan sore itu rasanya seperti sudah disabotase secara terstruktur, masif, dan tersistematis. Kita tidak hanya melawan tim sepak bola Kampung Curut tetapi juga kotoran sapinya. Selesai pertandingan yang tersisa hanya kotoran sapi yang menempel di sepatu dan beberapa jersey juga ada yang menjadi korban.

Perasaan saya sudah hati-hati saat berlari, masih saja kotoran sapi ada yang keinjek juga.

Jun 24, 2016

Sihir Mars Perindo

Melihat perkembangan anak saya, Hafizh yang sudah masuk usia satu tahun. Saya merasa seneng banget. Dibandingkan melihat perkembangan LGBT yang juga berkembang cukup signifikan saya lebih seneng melihat perkembangannya Hafizh.

Dia sekarang sudah bisa jalan, walaupun saat jalan mirip banget kayak orang mabuk sagon. Jalannya belum bisa seimbang, ngepot kanan-ngepot kiri. Jika diperhatikan dari belakang, pada saat dia jalan gerakan pantatnya mirip Zaskia Gotik dengan goyang itiknya. Mentang-mentang sudah bisa jalan Hafizh sekarang pengennya ngajak jalan-jalan terus. Jalan muterin komplek sambil pamerin wajah gantengnya, gak lupa Hafizh juga pamerin wajah gembel ayahnya.

Nasib kalau wajah anak lebih ganteng dari ayahnya ya kayak gini. Hafizh belum tahu dunia selalu berputar, yang di atas belum tentu selalu di atas terus. Pada suatu hari nanti semuanya pasti bisa berubah. Hafizh berubah tambah ganteng sedangkan saya berubah tambah tua. Tua-tua keladi, tambah tua banyak istri. Anggap saja saat baca bagian istri ada sensornya. Inget ada sensornya! Atau pura-pura gak kebaca demi keselamatan hidup saya.

Yang membuat saya heran dari Hafizh selain wajah gantengnya adalah dia suka banget dengan Mars Perindo ciptaan Ibu Lilyana Tanoesoedibjo. Ini ujian apalagi yang kau berikan Tuhan? Anak satu tahun ngedance saat melihat tayangan Mars Perindo. Maksud saya okelah kalau Hafizh ngedance saat melihat iklan NU Green Tea karena memang musiknya enak buat ngedance. Ini Mars Perindo, kebayang gak saat ada sebuah tempat hiburan malam yang di dalamnya penuh dengan orang-orang mabuk dan DJ-nya memutarkan musik Mars Perindo? Sedang asiknya ajojing, mereka semua pasti langsung taubat saat mendengarkan Mars Perindo.

Sihir Mars Perindo

Entah sihir apa yang ada di dalam Mars Perindo ciptaan Ibu Lilyana Tanoesoedibjo ini sehingga anak umur satu tahun merasa kegirangan saat melihatnya. Atau bisa jadi selera musik Hafizh lain dari pada yang lain. Saya takutnya Mars Perindo menjadi lagu favorit dia, dan bisa-bisa suatu saat nanti Kangen Band, Wali, Setia Band, dan Republik dianggap grup band kampungan yang gak bisa ngerti kualitas musik.

Hafizh rela meninggalkan sebotol susu coklatnya demi Mars Perindo yang tayang di dalam kotak sebesar 19 inch. Jangan-jangan dia akan lebih memilih nonton Mars Perindo dari pada nonton ayahnya yang disunat untuk kedua kalinya. Ini bahaya.

Sepertinya bagi Hafizh Mars Perindo ciptaan Ibu Lilyana Tanoesoedibjo membangkitkan semangat kemakmuran saat dia dewasa nanti.

Saya harus legowo menerima kenyataan pahit menurut saya tapi manis untuk Hafizh. Disaat Hafizh gak mau makan daging, bukan karena daging baru mahal tapi karena giginya belum lengkap. Hafizh lebih memilih makan nasi dengan sayur bayam. Hafizh memang lebih baik memilih untuk melihat Mars Perindo ciptaan Ibu Lilyana Tanoesoedibjo dari pada Tukang Bubur Naik Haji.