13 Sep 2016

Terima Kasih Untuk Mantan

Saya tidak bisa membohongi perasaan saya sendiri jika saya masih suka merasa kangen dengan mantan. Iya mantan SD yang dulu pernah saya tempati untuk mengajar. Bukan bermaksud untuk membanding-bandingkan dengan SD yang sekarang saya tempati, tapi begitulah kenyataannya. Sebetulnya di SD Negeri Pule, Kecamatan Mayong, Jepara (SD yang sekarang ini) tidak terlalu jauh bereda dengan SD Negeri Gundi, Kecamatan Godong, Purwodadi (mantan SD) *cie mantan...

Tempatnya sama-sama di kampung, teman satu kantor juga sama-sama asiknya, suasana ngajar juga kondusif. Tapi jika sudah ada embel-embel “mantan” memang jadi bikin susah move on.

Sedikit cerita tentang SD Negeri Pule. Saya di sini tidak dijadikan operator lagi seperti yang dulu pernah saya alami jaman masih mengajar di SD Negeri Gundi. Tapi...iii...

Nah masih ada tapinya juga kan...

Saya di sini diberi tugas tambahan untuk membantu membuat laporan BOS. Mungkin dari cerita saya ini akan ada yang bingung karena memang gak ngerti tentang tugas-tugas tambahan seorang Guru selain mengajar. Buat adik-adik yang bingung dengan cerita Pakdhe kali ini jangan dipaksa untuk melanjutkan bacanya, dari pada bikin sakit mata dan pusing kemudian mual-mual.

Pakdhe jelasin ya...

BOS adalah merupakan singkatan dari Bantuan Operasional Sekolah. Bantuan ini diartikan sebagai dana bantuan yang diberikan dari pemerintah untuk kelancaran kegiatan belajar mengajar.

Terima Kasih Untuk Mantan

Lanjut... *Kalau masih ada yang sanggup.

Saya beruntung sekali ketika saya masih di SD Negeri Gundi, saya sering di ajak main ke rumah bendahara BOS saya. Eits... mainnya gak sekedar main-main lho...

Jadi, setiap selesai ngajar. Sorenya saya main ke rumah Bu Hani (bendahara BOS SD) untuk kerja rodi membuat laporan pertanggung jawaban penggunaan dana BOS. Beliau adalah orang yang bertanggung jawab penuh atas keberhasilannya menghasut, menjerumuskan, dan merekrut saya atas titah Pak Hartoyo (Kepala Sekolah) dalam pembuatan laporan BOS.

Awalnya saya gak ngerti apa-apa karena memang pembuatan laporan BOS adalah hal baru bagi saya. Tapi karena doktrin yang bertubi-tubi diberikan kepada saya, akhirnya sedikit demi sedikit saya mulai mudeng seluk beluk pembuatan laporan BOS.

Pada akhirnya saya malah harus mengucapkan banyak terimakasih kepada beliau karena sudah mengajari saya tentang pembuatan laporan BOS. Mengingat di SD Negeri Pule (SD yang baru) ternyata saya kebagian tugas membantu bendaharanya dalam pembuatan laporan BOS.

Bisa jadi kalau dulu saya gak dijerumuskan Bu Hani, sekarang saya buta tentang yang namanya laporan BOS.

Tetap semangat walaupun status saya Guru Honor Sekolah, diberikan tugas tambahan dari Kepala Sekolah langsung saya terima. Dari dulu idealisme saya memang cukup tinggi, saya percaya hukum timbal balik. Apa yang saya kerjakan dengan keikhlasan, pasti dibelakang nanti saya akan menuai hasilnya. Dan saya termasuk orang yang dalam bahasa jawa “sendiko dawuh” (nurut dengan apa yang diperintah).

Biar kata status masih Guru Honorer kinerja tetap bersaing dengan yang PNS. Ada juga Guru Honorer yang beranggapan bulanan gak seberapa, kenapa harus kuras otak dan tenaga. Pikiran-pikiran seperti itu yang membuat saya heran, kalau tahu bulanan gak seberapa kok ya masih tetep ngajar. Lha mending keluar terus pelihara tuyul biar cepet dapet bulanan yang gede.

Tapi dari pengalaman yang saya dapatkan selama mengerjakan laporan BOS sangatlah berharga, karena tidak semua Guru mau mendapatkan tugas berat ini. Kenapa saya katakan berat?

Laporan BOS urusannya selalu dengan uang dan pengeluarannya. Pertanggung jawabannya dunia akhirat. Terkadang saya kepikiran tugas pembuatan laporan kayak gini dosa apa gak ya?

Karena terkadang beberapa pengeluaran tidak bisa saya laporkan, contohnya iuran kegiatan pramuka. Sebetulya semua kegiatan yang diadakan untuk siswa diperbolehkan, tetapi karena kurangnya sosialisasi membuat sekolah jadi kebingungan dalam pelaporannya. Dari panitia kegiatan acara tidak memberikan rincian kegiatan secara gamblang dan bukti pembayaran hanya diberi kwitansi. Padahal di Kabupaten Jepara kwitansi harus dari ALPEKA BOS, bukan kwitansi-kwitansi yang beli dari toko.

Dan sebulan terakhir ini saya mengerjakan laporan BOS tiga sekolah yang berbeda. Bukan mau sombong atau gimana, saya masih dalam tahap belajar. Kebetulan saja ada sekolah yang kekurangan tenaga dalam pelaporan BOS. Jadi saya diminta bantuan tenaga untuk sekedar membuat laporannya.

Dari tugas tabahan dan bantu-bantu itu, saya bisa dapet insentiv. Lumayan lah... pendapatannya sementara ini lebih besar dari pasang iklan adsense di blog. Bisa untuk beliin emas, rumah, dan mobil istri saya *Kelewatan sombong.

Rasa deg-degan saat laporan BOS diteliti oleh Dinas melebihi rasa deg-degan saat ketemu calon mertua. Tetapi jika lolos dan mendapatkan rekomendasi pencairan dana, rasanya lega kayak kesuksesan melewati malam peratama.

Uniknya saya dan istri mendapatkan tugas tambahan yang sama. Jika pas waktunya ngerjain laporan BOS kita berdua langsung duet begadang bareng. Kertas berhamburan dimana-mana, semalaman suara mesin printer ngalahin suara jangkrik. Sampai-sampai jangkriknya ngambek memutuskan untuk bunuh diri dengan cara memasukkan bola ke gawangnya sendiri.

Punya pasangan yang seprofesi itu enak, bisa tukar pikiran saat ada kesulitan. Tapi saya kesel dengan istri saya, karena dia gak mau bertukar pikiran dengan saya. Dia merasa lebih pintar dari saya. Walaupun kesel saya ngalah saja dari pada jadi tambah ribet urusannya. *Ini adalah alasan dari orang yang gak pinter tapi ngaku pinter.

Saya bisa menikah dengan dia adalah salah satu bukti saya lebih pintar dari pada dia. Atau jangan-jangan dia mau saya nikahi karena sengaja agar saya bisa dijadikan tumbal pesugihan?

Dulu saya anti banget dengan yang namanya kopi, tapi sekarang di dapur udah kayak warung angkringan. Dari kopi, teh, wedang jahe, sirup, dan susu tersedia. Cemilan juga lengkap, istri saya memang pengertian banget. Dia saya...aaang banget dengan...

Dengan dirinya sendiri.

Ternyata saat begadang mengerjakan laporan BOS saya harus bikin sendiri dan ngambil cemilan sendiri, bahkan dia malah yang jadi Bos. Dan saya OB-nya. Nasib-nasib... jadi suami kok ya gini-gini banget...

Kemarin saya sempet ngerasa capek banget dengan semua pekerjaan yang ada, tapi setelah melihat anak dan istri saya jadi semangat lagi. Karena merekalah yang membuat saya selalu bekerja keras. Saya berharap mereka akan bahagia dan kecukupan dengan apa yang saya berikan.

Ayah sayang Hafizh dan Bunda...

Dan akhirnya tulisan ini bisa di publish juga setelah kepala saya sempet ngeluarin asap tebal mikirin SPJ BOS.

Artikel Terkait

Saya suka nulis hal-hal yang dianggap gak PENTING, selain nulis di blog saya juga sibuk ngajar di Sekolah Dasar. Jadi kalau ada yang mau FOLLOW blog saya janganlah malu-malu, karena saya juga akan memberikan FOLLBACK.
Baca profil lengkap saya DI SINI