3 Jul 2016

Jomblo Idealis

Dulu kami berempat adalah sahabat bahkan sampai sekarang walaupun sudah jarang sekali bertemu. Berangkat kuliah bareng, makan bareng, tidur bareng, kalau saja kamar mandi kos kami luas saya yakin kami akan mandi bareng. Pasti seru banget 4 tongkol singkong berebut gayung untuk mandi.

Sekarang saya pindah ke Jepara. Kenangan main futsal, latihan voli saat akan ada lomba ulang tahun PGRI, dan main perempuan sudah tidak bisa kami lakukan bersama-sama lagi. 

Padahal dulu saya bermimpi bisa membuka bisnis rental upil bersama mereka. Belum sempat saya utarakan niat baik saya kepada Dedi, Sandi, dan Irfan, saya malah sudah pindah ke Jepara. Saya yakin bisnis rental upil harusnya bisa memberikan kami kesuksesan besar.

Siapa yang tahu takdir yang sudah ditentukan oleh Allah, walaupun bisnis idaman saya tidak bisa terealisasi bersama mereka saya cukup merasa tenang karena mereka bisa bertahan hidup tanpa saya. (emang lo siapa!!!) *suka-suka gue... blo-blog gue... tulisan-tulisan gue... gak usah protes!!!

Tetapi saya masih merasa ada yang mengganjal. Mengganjalnya di sini (nunjuk dada) bukan di sini (nunjuk tengah selangkangan) *mentang-mentang pakai sempak ketat

Dari ketiga sahabat saya ada satu yang belum menikah sendiri. Padahal dia bukan homo, sudah saya buktikan dengan mengajak dia berciuman tetapi dia menolak. Itu bukti otentik kalau dia bukan homo, atau dia homo tapi tidak nafsu dengan saya. Bisa jadi itu manjadi alasan logis kenapa dia menolak ajakan saya untuk berciuman.

Jomblo Idealis

Foto ini diambil sebelum uban dan jenggot menyerang

Entah apa yang dipikirkan Dedi dengan mempertahankan prinsipnya menjadi seorang jomblo. Padahal dulu saat saya menikah, saya dan istri sudah memberitahukan kepada dia kalau sampai kami punya anak dan dia belum juga nyusul. Saya pastikan dia akan kami jadikan anak angkat.

Sampai anak kami lahir dan sudah berumur satu tahun lebih, dia belum juga menunjukkan tanda-tanda mau tobat. Masih saja dia menajadi seorang pria hina yang berpegang teguh dengan idealismenya. Apakah dia tidak berpikir mencari pasangan hidup untuk melestarikan jenisnya? Apakah dia pikir pasangan hidup itu tidaklah penting karena dia bisa membelah diri untuk melestarikan jenisnya?

Pernah suatu waktu dia main dan menginap di kontrakan kami. Dan sepertinya dia tidak curiga jika kami akan bertindak jahat seperti menjual dia sebagai pemuas nafsu bejat tukang becak di perempatan pasar Mayong. Atau kami pekerjakan sebagai aduan cupang.

Tamu adalah raja, jadi kami memperlakukan dia sebaik mungkin apalagi dia adalah sahabat baik kami. Tamu spesial harus mendapatkan fasilitas yang terbaik seperti tidur beralas karpet di ruang tamu. Saat itu saya merasa menjadi tuan rumah yang baik banget. 

Apa yang diharapkan dari seorang jomblo? Saya yakin dia sudah terbiasa menjalani kehidupan yang lebih keras dari pada tidur di atas alas karpet.

Setelah seharian ngobrol panjang, lebar, tinggi, dan luas. Sepertinya niatan kami untuk mengadopsi dia menjadi anak, kami urungkan saja setelah melihat uban yang mulai terlihat dan jenggot lebatnya. Saya takut jika tetap saya paksakan untuk mengadopsi dia sebagai anak, bisa-bisa Hafizh manggil dia Mbah. Padahal Hafizh sudah mulai merasa akrab banget, sudah seperti saudara kandung sendiri. Apa boleh buat Ded, uban dan jenggot lebatmu membuat kami merasa ragu. Siapa tahu Sandi dan Irfan mau dengan senang hati mengadopsi kamu.

Artikel Terkait

Saya suka nulis hal-hal yang dianggap gak PENTING, selain nulis di blog saya juga sibuk ngajar di Sekolah Dasar. Jadi kalau ada yang mau FOLLOW blog saya janganlah malu-malu, karena saya juga akan memberikan FOLLBACK.
Baca profil lengkap saya DI SINI