18 Jun 2016

Teruntuk Kalian Maafkan Anakmu Ini yang Baru Belajar Tentang Kehidupan

Memutuskan untuk menikah sebetulnya sangatlah berat untuk saya ambil. Antara karena benar-benar ingin membuktikan rasa sayang dan cinta kepada wanita spesial yang selalu ada disamping saya. Apalagi saat itu saya merasa diyakinkan bahwa dia mau merasakan susah dan senang bersama-sama.

Saya tidak menjajikan apa-apa, tapi saya lebih suka membuktikan bahwa saya akan merasa menjadi laki-laki yang paling beruntung. Begitu juga dia. Dia akan merasa menjadi wanita yang paling beruntung.

Singkat cerita setelah kami menikah. Kami pindah ke Kabupaten Jepara, dan di sini kebahagiaan kami bertambah dengan hadirnya jagoan kecil kami. Hafizh menjadi penyemangat kami untuk belajar apa yang disebut dengan tanggung jawab itu.

Karena kami sama-sama dari keluarga yang biasa-biasa saja, jadi kehidupan kami di sini juga terbiasa dengan hal-hal yang biasa. Di kontrakan kami tidak ada hal yang memperlihatkan kemewahan. Ya... kami masih kontrak, belum mempunyai rumah sendiri. Dan semoga tahun depan sudah bisa bayar cicilan rumah sendiri.

Kehidupan ini memang terasa sulit, tapi kami sebisa mungkin tidak banyak mengeluh dan protes kepada sang maha pemberi kehidupan. Kami yakin Allah itu sudah adil.

Teruntuk Kalian Maafkan Anakmu Ini yang Baru Belajar Tentang Kehidupan

Dengan pendapatan dari pekerjaan saya sebagai Guru Honorer dan istri saya Guru CPNS, kami masih bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari walaupun sudah berusaha seirit mungkin. Maklum kami hidup sekarang jauh dari kedua orang tua kami, dan jika bisa tidak ingin merepotkan kedua orang tua kami kembali.

Beberapa waktu lalu saat kami pulang kampung, kami sempat dicegat depkolektor. Rasa kaget dan jengkel bercampur menjadi satu. Sebenarnya dalam perjalanan saat kami melewati pasar, saya sudah merasakan curiga. Karena kebetulan saat itu saya melihat pria dengan beperawakan tinggi, hitam, dan gondrong melihat kendaraan kami yang sedang melintas. Tidak masalah jika melihat dengan sewajarnya, tapi ini melihatnya lebih ke kepo.

Saya perhatikan sebentar, pria yang tidak ada wajah unyunya sama sekali ini langsung menyalakan mesin motor yang sedari tadi dia duduki di atasnya. Saya lihat dari kaca spion, dia sepertinya mau mengejar kami. Dasarnya saya sudah curiga, saya tarik gas motor saya. Terasa berat di tangan, ternyata saya salah tarik gas. Yang saya tarik gas melon, bukan gas motor.

Saya lihat kembali dari kaca spion, pria tadi sudah tidak terlihat lagi. Sampai akhirnya kami terjebak kemacetan kecil, dalam hati saya bergumam gak papalah kena macet. Yang penting kami sudah lolos.

Tidak disangka-sangka pria tadi sudah ada tepat di depan motor kami dan memberhentikan kami. Satu ada di depan dan satu lagi ada di belakang kami sambil berboncengan. Jadi dari tadi saya ngebut tidak ada artinya, motor saya disalippun saya tidak menyadarinya. Saya merasa gagal ganteng saat itu. Sepertinya saya memang tidak ada bakat untuk menjadi joki balap liar.

Pria tersebut melambai-lambaikan tangannya yang gagah, seakan-akan memberikan tanda “Berhenti cin...!!! akika sudah capek ngejar kalian”

Kamipun menepi dan mematikan mesin motor. Dibayang-bayangi rasa penasaran sebenarnya maksud dan tujuan mereka ini itu apa.

“Selamat siang Bapak, maaf kami menggangu perjalan Bapak yang penuh dengan keceriaan ini. Dan percayakah Bapak, keceriaan Bapak akan berubah setelah Bapak mendengarkan fakta-fakta menarik tentang motor Bapak”

“Wah... fakta apa itu?” tanya saya yang masih penuh dengan kebingungan.

“Bapak siap untuk menyimak ya, inilah fakta menarik tentang motor Bapak versi On The Spot Trans Tujuh. Motor Bapak terlambat bayar angsuran”

DUARRRR...!!!

Apah? Angsuran?

Padahal motor saya sudah lunas. Pasti ada yang tidak beres, saya difitnah, saya dizolimi, saya dicium depkolektor.

“Wah pasti ada yang salah Pak, motor saya kan sudah lunas. Jadi tidak mungkin ada angsuran yang belum terbayar”

“Ini angsuran untuk BPKB Bapak”

Saya sejenak termenung dan mengingat-ingat kembali BPKB motor saya. Seingat saya BPKB motor di bawa Bapak saya. Hmmm... sekarang saya sudah tahu siapa yang harusnya bertanggung jawab.

Saya perhatikan salah satu wajah depkolektor yang masih sibuk cek data motor saya. Saya dekati dia, bukan dekati seperti mendekati gebetan tentunya. Ternyata benar dia adalah adik kelas saya sewaktu SMP.

“Mas, sepertinya saya kenal deh sama Mas. Mas ini adik kelas saya”

“Oh iya ya Pak? Bapak siapa ya? Kok saya tidak kenal Bapak ya?”

*Sakit...

Setelah selesai cek data motor saya, mereka hanya memberikan sedikit tausiyah kepada kami agar segera membayar angsuran. Kemudian mereka semua salim, cium tangan untuk pamit kerja lagi.

Rasa kaget dan jengkel berubah menjadi sedih, ternyata kami sampai tidak tahu kebutuhan orang tua kami. Pelajaran yang bisa saya ambil adalah sebagai anak, sampai kapanpun kami tidak akan bisa membalas jasa-jasa orang tua kami yang sudah susah payah mendidik kami. Berkorban memberikan segalanya untuk kami.

Sedangkan kami?

Kami belum bisa membantu banyak, karena kami sedang belajar bertanggung jawab dan belajar tentang kehidupan sebenarnya.

Artikel Terkait

Saya suka nulis hal-hal yang dianggap gak PENTING, selain nulis di blog saya juga sibuk ngajar di Sekolah Dasar. Jadi kalau ada yang mau FOLLOW blog saya janganlah malu-malu, karena saya juga akan memberikan FOLLBACK.
Baca profil lengkap saya DI SINI