16 Jan 2016

Wajar Saja, Dia Kan Anak Guru

Mempunyai orang tua yang berprofesi menjadi Guru ada rasa enak dan gak enaknya. Bapak saya bekerja sebagai Guru di Sekolah Dasar dan Ibu saya bekerja sebagai Guru Taman Kanak-Kanak. Mau sepinter dan secerdas apapun itu menjadi percuma untuk saya. Karena pasti akan di anggap biasa oleh orang-orang. Mereka beranggapan wajar saja karena kedua orang tua saya berprofesi seorang Guru. 
Dan apabila saya gak jago dan pinter dalam pelajaran sekolah, mereka pasti meremehkan saya. “Anak Guru kok gak pinter”.

Menurut pendapat saya tingkat kecerdasan di bagi menjadi 3 tipe golongan. Golongan pertama tipe murid dengan kecerdasan tinggi, golongan kedua tipe murid dengan kecerdasan sedang, dan golongan ketiga tipe murid dengan kecerdasan rendah. Saya sendiri dulu gak masuk dalam 3 tipe golongan tersebut, saya mempunyai golongan sendiri yaitu golongan murid samar-samar. Gak bisa di identifikasi secara jelas, terkadang terlihat cerdas tapi terkadang terlihat gak jelas. Saya gak mau sering-sering nunjukin kecerdasan di depan teman-teman sekelas. Karena percuma, gak ada gunanya. Mau nunjukin kalau paling pinter nantinya pasti dianggap biasa-biasa saja, gak akan jadi hal yang spesial.

Misalkan penerimaan rapor saat saya masih SD dulu pernah di tanya teman “Eh… kamu dapet peringkat berapa?” 
“Hmmm… gak dapet peringkat nih”
“Emang gak dapet bocoran soal tes dari Bapak kamu?

*Nangis di pojokan toilet.

Situasi yang bisa membuat saya menjadi gak nyaman, kalaupun mendapatkan peringkat 1 pasti di curigai. Dan saat gak dapat peringkatpun bisa jadi bahan lelucon satu kelas.

Pernah juga saat saya sudah masuk tingkat SMP, dan saat itu sedang ulangan tes semester. Banyak teman yang membuat saya jadi jengkel dan merasa kesal. Biasanya ada teman yang manggil-manggil untuk minta jawaban kepada saya saat tes. Saya gak pernah keberatan, gak pernah mempermasalahkan saat ada yang minta contekan. Yang bikin saya jengkel dan kesal adalah saat saya sudah memberitahukan jawabannya dia malah balik nanya lagi “Kamu kok tahu jawabannya, emang kamu dapet bocoran soalnya ya?”

“Ya Allah kenapa engkau mengirim setan penghuni neraka ini ke dalam kelas hamba ya Allah?”

Padahal sudah masuk tingkat SMP, Bapak saya Guru SD. Mau dapet bocoran soalnya gimana? Kalaupun mendapatkan bocoran soal, apa iya anak SMP dapet bocoran soal tes semester anak SD. Saya selalu dicurigai, situasi mencontek yang harusnya berjalan hikmat, tenang, dan lancar berubah kacau. Saya malah seperti maling ayam yang sedang di interogasi dan siap-siap di masa teman sekelas.

Tetapi gak semua pengalaman pahit yang saya rasakan, ada pengalaman yang menyenangkan juga mempunyai orang tua berprofesi seorang Guru. Seperti saya bisa menikmati masa kecil saya sebagaimana mestinya anak-anak pada umumnya. Ibu saya yang notabene seorang Guru TK sangat memperhatikan perkembangan anaknya. Saya masih bisa merasakan bagaimana asiknya menyanyikan lagu anak-anak yang sering Ibu saya ajarkan. Bagaimana rasanya mendengarkan dan membaca buku dongeng anak-anak, belajar menulis dan membuat garis saat masih kecil dulu. Saya merasa beruntung, karena gak semua orang seberuntung saya saat itu.

Yang gak enak malah saat ada pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan, setiap Bapak Guru menilai. Dan saat itu murid-murid dipanggil satu-persatu kedepan sesuai urutan absennya untuk menyanyi. Tiba saatnya giliran nama saya dipanggil “Haris maju ke depan. Sekarang nyanyikan lagu Burung Hantu”.

Saya maju kedepan kelas, perasaan saya deg-degan. Berpikir kira-kira bisa lolos ke Jakarta apa gak. Mas Anang ngasih “Yes” atau gak. Karir saya dipertaruhkan saat itu. Saya harus memberikan yang terbaik untuk para juri SD Idol.

Saya berdiri tepat ditengah ruang kelas, dengan suara merdu di atas rata-rata anak SD saya mulai bernyanyi. Kepala Bapak Guru mengangguk-angguk. Terlihat tangan kanan beliau yang sedang mengetuk-ngetuk pelan di atas meja Guru, seakan-akan ikut terbawa irama nada yang saya dendangkan. Dengan sedikit tarian stripis saya menggerakan tubuh kecil saya. Di akhir penampilan saya, Bapak Guru meminta teman-teman untuk memberikan tepuk tangannya.

Bapak Guru meminta murid lainnya untuk total saat menyanyi seperti apa yang saya tampilkan saat itu. Dan kampretnya ada suara celetukan kecil keluar dari pojokan kelas, samar-sama suara itu muncul dari dalam tempat sampah “Wajar saja dia jago nyanyi Pak, Ibunya kan Guru TK”. Ternyata itu suara teman saya Dwi, anak berkulit gelap, bertubuh gendut, berambut lebat. Saya gak tahu apa yang di lakukan Dwi di dalam tempat sampah, perasaan saya kemarin sudah membuang dia di kali.

Rasanya saat itu saya pengen banget nyabutin bulu ketek dia, tapi saya urungkan gara-gara setelah saya buka bajunya Dwi gak ada sehelaipun bulu ketek yang tumbuh. Kekesalan perasaan yang saya rasakan saya luapkan dengan mencabut bulu ketek orang lain. Orang lain yang saya maksud itu adalah Bapak Guru, karena memang saat itu ketek Bapak Guru sedang tumbuh subur-suburnya.

‴‴‴‴‴‴‴‴‴‴‴‴ 
 
Sekarang ini saya mengajar di salah satu SD di Kabupaten Jepara dan istri saya juga berprofesi menjadi seorang Guru. Saya gak bisa menutupi perasaan bangga bisa satu profesi dengan istri dan kedua orang tua saya. Semoga saja rasa bangga juga akan di rasakan anak saya. Atau jangan-jangan saat Hafizh sudah mulai masuk sekolah, nantinya dia akan di olok-olok oleh teman-temannya. Yang terpenting adalah untuk saat ini setiap malam saya bisa menyanyikan lagu anak-anak untuk Hafizh sama seperti yang biasa di ajarkan Ibu saya dulu kepada saya.

Laki-laki berwajah minimalis, berbulu hidung gondrong, berkumis tipis, mulut komat-kamit menyanyikan lagu-lagu anak-anak sambil menggendong Hafizh.

Itulah aktivitas rutin yang saya lakukan setiap malam. Walaupun Hafizh terkadang membuat saya merasa capek karena saya sudah menyanyikan 2 album, 4 single, dan beberapa project featuring bersama artis ibukota. Yaitu istri saya sendiri. Tetap saja matanya Hafizh terbuka lebar, padahal mulutnya sudah menguap berulang kali. Gak bisa dibayangkan kalau Ibu saya dulu gak mengenalkan lagu anak-anak kepada saya. Pasti Hafizh akan saya nyanyikan lagunya Mbah Surip yang berjudul “Tak Gendong”

Saat Hafizh sekolah nanti, saya dan istri berencana gak akan mengajarkan Hafizh untuk berbuat curang pada waktu menghadapi tes ujian. Kami gak akan memberikan Hafizh bocoran soal. Akan kami didik Hafizh sebaik mungkin. Kami akan selalu mendampingi Hafizh setiap malam saat dia belajar.


http://bisamandiri.com/
 
Saya lakukan itu karena saya mempunyai pengalaman yang lucu. Saat itu saya masih mengajar di salah satu SD di Kabupaten Grobogan, belum pindah ke Jepara. Seperti biasa pada waktu anak-anak menunaikan kwajiban ujian semester, saya sebenarnya menganggur di kantor. Inilah derita seorang Guru Penjas, gak pernah punya kesibukan pada saat muridnya berjuang memikirkan jawaban dan mencari contekan dari temannya.

Karena Guru kelas 3 ijin dan bel sekolah sudah di berbunyi. Saya beranjak dari tempat duduk deretan pemain cadangan, tanpa harus melakukan pemanasan terlebih dulu kemudian saya langsung masuk ke kelas 3 sambil membawa soal ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Saya bagikan soal itu dan mempersilahkan anak-anak untuk mengerjakan. Selama berjalannya ujian tidak ada keganjilan, semuanya berjalan lancar. Hingga pada saat waktu mengerjakan soal ujian semester menunjukkan kurang 15 menit lagi.

“Oke anak-anak waktunya kurang 15 menit lagi. Apakah ada yang belum selesai?” 
“Saya sudah selesai Pak. Saya semalam belajar bersama Ibu Pak. Soal ujiannya sama dengan soal latihan yang Ibu saya berikan tadi malam Pak”

Mata saya langsung tertuju kepada anak tersebut. Dia saya lihat, saya raba, saya terawang, saya kuras, kemudian saya kubur. Saya mulai memikirkan kata-kata yang keluar dari mulut anak ini. Soal ujiannya sama dengan soal yang Ibu saya berikan tadi malam dan Ibunya adalah seorang Guru. Sayapun kenal dengan Ibunya dia.

Saya bingung, pengen ketawa tapi juga pengen marah. Karena dia masih gak ngerti itu adalah sebuah kecurangan dan malahan dengan bangga dia mengatakan kalau Ibunya memberikan latihan soal untuk belajar yang isinya sama dengan soal ujian yang di kerjakan. Jadi saya menahan ketawa saat itu, gak jadi marah. Mau gak mau kejadian ini saya laporkan kepada Kepala Sekolah dan keesokan harinya saya menceritakannya kepada Guru kelasnya.

Dari pada kejadian yang sama seperti ini nantinya akan terulang oleh Hafizh, sepertinya saya dan istri saya harus lebih pintar lagi dalam mendidik anak. Walaupun kedua orang tuanya Guru, Hafizh harus mendapatkan prestasi tanpa harus berbuat curang. Kalau hafizh bisa mendapatkan prestasi baik di sekolah itu semua wajar saja, kedua orang tuanya kan Guru. *Tetep...

Artikel Terkait

Saya suka nulis hal-hal yang dianggap gak PENTING, selain nulis di blog saya juga sibuk ngajar di Sekolah Dasar. Jadi kalau ada yang mau FOLLOW blog saya janganlah malu-malu, karena saya juga akan memberikan FOLLBACK.
Baca profil lengkap saya DI SINI