22 Jan 2016

Jadi Play Boy Itu Mudah, Tetapi Susah

Bisa dibilang dulu saya termasuk orang yang telat pacaran, menurut saya lebih baik telat pacaran dari pada pacar saya yang telat. Saya pasti sudah di mintai pertanggung jawaban dari pacar dan kedua orang tuanya. Pada usia hampir yang ke-20 tahun saya baru merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang pacar. Dan siapa yang tahu takdir seseorang, ternyata dialah perempuan pertama yang mau saya ajak jadian sampai akhirnya saya ajak menikah.
 
Selama pacaran saya berhasil dibuat bertekuk lutut di depan dia, gak pernah bisa selingkuh, gak pernah bisa berpaling kepada perempuan lain. Terkadang saya iri melihat ada seorang laki-laki yang punya pacar di mana-mana sampai jari tangan dan kaki gak cukup untuk menghitung jumlah pacarnya.
 
Tapi setiap saya ngaca di depan spion, wajah saya gak ada pantes-pantesnya jadi seorang playboy. Ditambah lagi saya gak memiliki bakat dan kurang terampil menjadi playboy. Ketika akhirnya saya memiliki pacar, timbul hasrat ingin merasakan bagaimana rasanya selingkuh, dan punya pacar banyak. Bukan dendam karena kelamaan gak laku, tapi saya penasaran saja efek yang di timbulkan dari selingkuh dan memiliki banyak pacar.
 
Sepertinya dengan memiliki banyak selingkuhan dan memiliki banyak pacar kadar ketampanan akan bertambah. Terkesan akan terlihat keren dan bisa menjadikan prestasi tersendiri. Semua rasa penasaran yang saya rasakan hanya menjadi angan-angan yang tak pernah kesampaian.
 
Setiap pengen selingkuh, terbayang wajah pacar.  
Setiap pengen jalan dengan cewek lain, terbayang wajah pacar. 
Setiap pengen godain cewek lain, terbayang wajah pacar.  
Setiap pengen mengungkapkan rasa suka kepada cowok lain, terbayang azab dari Allah.
 
Saat itu saya pacaran dengan anak SMA, dan saya sendiri kuliah. Dan umur kami beda 3 tahun, sudah pasti saya yang lebih tua. Dilihat dari kerutan wajah dan pantat juga sudah bisa ketahuan. Harusnya saya bisa memanfaatkan anak SMA ini untuk bisa di selingkuhi, dan saya harusnya bisa memegang semua kendali di dalam hubungan kami. Kenyataannya malah terbalik, pacar sayalah yang berhasil menjinakkan saya. Entah saya yang kurang jam terbang menjadi seorang playboy atau pacar saya lebih pintar dalam mengendalikan sebuah hubungan.
 
Dilihat dari sifat, dia sama seperti perempuan-perempuan pada umumnya. Manja, cerewet, dan kalau sedang marah otot kulinya bisa keluar kapan saja. Tapi yang membedakan dia dari semua perempuan yang pernah kenal dekat dengan saya seperti Ibu Guru SD, Ibu Guru SMP, Ibu Guru SMA, dan Ibu Dosen. Yang saya sebutkan hanyalah sebagian perempuan saja, karena masih banyak perempuan-perempuan lain yang ada di dalam kehidupan saya. Seperti Joko, Sanusi, Totok, Anto, dan banyak lagi.
 
Hanya dialah perempuan yang paling bisa tahu semua apa yang saya butuhkan.
 
Saat saya membutuhkan air untuk cebok, dia menjadi orang pertama yang mengambilkan air. 
Saat saya membutuhkan jari untuk ngupil, dia menjadi orang pertama yang mengulurkan jari telunjuknya. 
Saat saya membutuhkan kasih sayang dari perempuan lain, dialah orang pertama yang ngejar saya sambil bawa parang dan panah.
 
Pasang surut di dalam sebuah hubungan itu biasa, kami juga sempat merasakan sakitnya berpisah saat pacaran. Bahagianya bisa balikan lagi saat pasca putus. Kami sering putus nyambung, mungkin karena hubungan pacaran kami yang gak ada komitmen jelas. Dari pengalaman putus nyambung itulah saya menemukan kenyataan bahwa saya gak bisa kehilangan dan selalu gagal move on dari dia.
 
Momen putus hanya menjadi formalitas saja di dalam hubungan kami. Selebihnya bisa dipastikan kami balikan lagi. Dengan apa yang sudah semua dia lakukan saat kami pacaran, dia berhasil membuat saya menjadi good boy bukan playboy. Saya selalu gagal ketika berniat berencana untuk selingkuh. Padahal baru niat, belum ada tindakan. Baru dikonsep di dalam pikiran saya, tapi pacar saya sudah tahu niatan itu. Informasi dia lebih akurat dari BIN (Badan Intelejen Negara), atau dia sudah mencuci otak saya tanpa saya sadari.

DeviantArt

Gimana saya mau jadi playboy handal kalau baru berencana mau selingkuh saja pacar saya sudah tahu. Mau gak mau masa muda yang seharusnya saya bagi-bagi dengan banyak perempuan, akhirnya habis hanya bersama satu perempuan. Perempuan itu bernama Liana Suci Lestari. Itulah nama pacar yang sekarang menjadi istri saya.
 
Perempuan yang biasa akrab di sapa Li oleh teman kuliahnya, padahal matanya gak sipit. Walalupun kedengarannya agak-agak ngeres kalau keseringan di sebut-sebut. Hasil kawin silang antara Sunda dan Jawa melahirkan peranakan bibit unggul untuk dipacari.
 
Disaat dia sudah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di Salatiga, saya mulai ingin lebih serius lagi. Kampretnya adalah semakin saya ingin serius, semakin sering saya bertemu dengan banyak perempuan yang lebih cantik dari dia. Naluri seorang laki-laki normal muncul, iman mulai goyah. Saya tidak mengerti kenapa godaan selalu datang ketika di dalam hubungan itu sedang serius-seriusnya.
 
Dari pada saya selingkuh di belakang dia lebih baik saya meminta ijin baik-baik untuk berpoligami mencari pacar lagi. Dan alhamdulillah dia mengijinkan tetapi dengan 3 sarat.
 
Pertama, saya harus bisa adil. 
Kedua, pacar saya harus cowok. 
Ketiga, boleh cewek tapi umur harus di atas 150 tahun.
 
Untuk sarat yang perama mungkin saya masih bisa mengusahakannya. Sarat yang kedua saya sudah pasti tidak akan bisa terima. Dan sarat yang terakhir, saya adalah laki-laki yang selalu ingin di buai wanita. *Samsons. Bukan arkeolog yang sedang melakukan penelitian arca. Sama saja dia menolak tetapi dengan cara halus dan terasa kasar.
 
Akhirnya saya menyerah dengan keadaan, hingga saat tiba dimana saya memutuskan sebuah pilihan hidup yang sangat penting. Bukan sekedar komitmen dan janji, tapi saya akan membuat dia merasa paling beruntung menjadi perempuan pertama dan terakhir dalam hidup saya. Dan setelah menikah, sekarang setiap saya melihat perempuan cantik langsung terbayang wajah anak dan istri. Dulu terbayang satu wajah saja sudah ngerinya minta ampun, sekarang tambah satu lagi. Ngerinya jadi double.
 
Mereka berdua mejadi pengontrol saya dari masa puber ke-2. Jangan heran kalau kalian ada yang pernah melihat laki-laki yang sudah berumur tapi masih merasa kalau dia ABG. Sedikit ralat, maksudnya “beliau” bukan “dia”. Karena memang sudah benar-benar tua. Masih kebanyakan tingkah, masih keganjenan. Padahal berdiri saja sudah susah. Kalian asumsikan sendiri “berdiri” yang saya maksud. Bisa berarti “berdiri” menggunakan kedua kaki atau susahnya “berdiri” nunjukin kejantanannya saat ingin berpijah.
 
Kebanyakan kaum laki-laki tidak pernah puas dengan apa yang sudah dia miliki. Sekalipun dia sudah menikah dan memiliki anak. Salah satu sifat kekanak-kanakannya akan terulang kembali, yaitu ingin mencoba hal baru. Pada dasarnya sudah ada jiwa kucing garong, lihat ikan ya pasti akan di colong.
 
Wajar saja seorang perempuan selalu menaruh curiga kepada pasangannya, dan wajar-wajar saja seorang laki-laki selalu menenangkan pasangannya karena takut ketahuan. Untuk perempuan di luaran sana, jangan pernah percaya sepenuhnya dengan suami atau pacar kalian. Taruhlah sedikit kecurigaan kalian dan asah rasa kepekaan kalian. Jika ada perubahan sikap yang tidak wajar segeralah di obrolin bersama. Jika kalian hanya diam, sama saja kalian memberikan kesempatan. 

Laki-laki selingkuh karena ada kesempatan dan target. Jadilah perempuan yang cerdas dan mahal, jangan mudah terbuai rayuan laki-laki. Saya yakin apabila ada alat pendeteksi seberapa banyak kadar playboy yang ada di diri seorang laki-laki. Tidak ada seorangpun laki-laki yang bisa lolos 100%. Mungkin bisa jadi termasuk saya. *Ah tidur di luar lagi kayaknya malam ini...

Artikel Terkait

Saya suka nulis hal-hal yang dianggap gak PENTING, selain nulis di blog saya juga sibuk ngajar di Sekolah Dasar. Jadi kalau ada yang mau FOLLOW blog saya janganlah malu-malu, karena saya juga akan memberikan FOLLBACK.
Baca profil lengkap saya DI SINI