9 Des 2015

Move On Dari Pekerjaan Lama

Saya mencoba move on dari mantan. Mantan SD yang sudah 5 tahun saya mengajar di sana. Ibarat cerita cinta seperti pada umumnya, hubungan 5 tahun itu bukan waktu yang singkat untuk  bisa di lupakan begitu saja. Coba bayangkan kalau kamu sudah pacaran selama 5 tahun. Sudah jalan kemana-mana berdua. Nonton berdua, pergi ke mall berdua, naik motor berdua, dan pipis pun udah berdua.
Ternyata takdir berkata lain. Kamu harus putus sama pacar kamu. Pasti rasa sedih dan sakitnya kerasa di mana-mana. Terutama di kantong, karena sudah ngeluarin banyak biaya selama hubungan itu berjalan. Rasanya saham yang sudah kamu tanam jadi gagal total, bukan untung yang kamu dapat. Malah buntung.

Perasaan sedih itulah yang sempat saya rasakan. Saya bekerja di SD Negeri Gundi, SD yang letaknya berada di salah satu desa bagian dari wilayah Kabupaten yang tidak mau di sebutkan namanya. Saya hargai privasi si Kabupaten, karena tidak mau di sebut namanya. Karena saya tahu bagaimana nggak enaknya kalau privasi di jadikan konsumsi publik.

5 tahun saya bekerja di sana sebagai guru olahraga. Selama kurun waktu itu juga sudah banyak hal yang saya lalui. Dari ngajar anak-anak yang pipisnya belum lempeng, ingusnya ngalir deras, sampai sering ngutang di kantin sebelah kantor. Kegiatan-kegiatan itu akan hanya jadi kenangan saja sekarang.

Move On Dari Pekerjaan Lama

Namanya hidup harus tetap melangkah ke depan, biarkan apa yang kita lewati kemarin menjadi pelajaran berharga untuk langkah berikutnya. Itulah kesimpulan yang bisa saya dapatkan dari perpisahan ini. Secara ikatan dinas, mungkin saya sudah selesai. Tapi ikatan persaudaraan yang saya jalin selama 5 tahun bersama teman-teman guru di sana masih sangat kuat.

Perasaan kehilangan sangatlah terasa. Saat saya berpamitan saja, air ketuban keluar dari ke dua mata saya. Sebenarnya malu, laki-laki berparas tampan dan berperawakan tegap nangis di depan murid sendiri. Saya lihat kanan dan kiri, sebagian murid juga nangis.
Tapi tiba-tiba ada yang nyeletuk. “Pak, panas”. Memang saat acara pamitan, semua murid di bariskan di halaman sekolahan. Saat itu jam 10 pagi baru di mulai, wajar aja kalau terasa panasnya.

Kampret, ini anak udah dosa besar. Gara-gara dia nyeletuk kepanasan, momen sedihnya hilang gitu aja. Saya kira mereka sedih karena saya tinggalin. Ternyata karena nggak kuat panasnya. Mereka masih polos, nggak bisa bohong dikit apa. Setidaknya mereka ekting nangis, paling nggak ngasih mimik muka sedih gitu. Saya sudah menyiapkan kata-kata perpisahan yang keren dan mental kuat dari rumah untuk berpamitan, malah jadi gagal total.

Tapi saya tetap merasa bangga pernah bekerja di sini, senang pernah mengajar murid-murid yang pintar, lucu, dan kadang bikin jengkel, bahagia pernah punya rekan kerja yang hebat-hebat. Yang paling penting sebelum saya pindah, semua hutang saya di kantin sudah lunas. Sujud syukur karena nggak di tuntut ibu kantin karena sering saya PHPin. Orang akan mendadak sakti, bisa mempunyai ilmu menghilang gara-gara kebanyakan ngutang. Termasuk banyak hutang di kantin.

Setelah saya resmi lepas dari SD Negeri Gundi, sekarang saya sudah mendapatkan SD yang baru di tempat tinggal yang baru juga. SDnya nggak jauh-jauh juga dari rumah kontrakan saat ini, keberuntungan masih menaungi saya. Padahal yang saya takutkan kalau keluar dari SD yang lama, saya akan susah mendapatkan SD yang baru. Ternyata takdir menuntun saya kearah yang sangat baik.

Di SD Negeri Pule, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara saya sekarang bekerja di sana. Tempatnya beda banget kayak SD Negeri Gundi, di SD Negeri Pule masih asri, sejuk, dan nggak terlalu ramai. Karena bisa dibilang, tempatnya ngumpet di dalam. Jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Dan yang lebih bikin tenang, teman-teman kerja di sana juga asik-asik. Nggak kaku, murah senyum, dan ramah-ramah. Lingkungan kayak gini ni yang bikin betah kerja. Dan sejauh ini semuanya berjalan dengan lancar.

Yang jadi kendala hanyalah sinyal. Hampir jalan sebulan saja saya di sini, sudah jadi fakir sinyal. Pulsa melimpah tapi nggak bisa buat telpon. Modem dengan kuota tumpeh-tumpeh jadi percuma. Mau login buka email aja udah pengen banting leptop. Mau ngepost tulisan di blog saja rasanya udah pengen ngirim somasi sama sinyalnya. Mau telpon keluarga yang di rumah malah jadi berantem gara-gara suaranya putus-putus. Makanya saya selalu telat ngasih komentar balik untuk teman-teman blogger.

Hmmm... hidup itu penuh dengan misteri, kadang apa yang saya rencanakan tidak berjalan sesuai dengan keinginan. Dan takdir berkehendak lain. Tapi Allah memberikan apa yang terbaik untuk saya dan keluarga. Setelah saya rasakan inilah yang terbaik.

Artikel Terkait

Saya suka nulis hal-hal yang dianggap gak PENTING, selain nulis di blog saya juga sibuk ngajar di Sekolah Dasar. Jadi kalau ada yang mau FOLLOW blog saya janganlah malu-malu, karena saya juga akan memberikan FOLLBACK.
Baca profil lengkap saya DI SINI