28 Sep 2015

Lapar Bisa Merubah Orang

Beberapa waktu lalu saya diminta untuk mengantar istri ke pasar. Saya nggak kuasa menolak, bukan karena takut tapi karena kegiatan belanja bersama di pasar bisa menjadi salah satu cara untuk menambah keromantisan dalam suatau hubungan. Konon kata orang-orang alasan itu emang banyak digunakan para suami yang takut sama istri karena malu mengakui suatu kenyataan.

Gimana nggak tambah mesra, siang-siang pulang dari sekolah berdua masuk pasar yang udah mulai sepi pedagang. Seolah-olah pasar udah menjadi milik sendiri karena sepi banget. Biasanya kalau pagi masuk ke dalam pasar empet-empetan sama pengunjung lain, siang itu mau salto, roll depan-belakang, sampai lari bisa dilakuin. Sebelum masuk kedalam pasar saya udah pesan sama istri “Nggak usah lama-lama. Aku udah laper”.
Istri saya si mengiyakan permintaan saya.

Kita berdua masuk, mumpung ada kesempatan saya gandeng tangan dia. Soalnya bukan apa-apa, habis ini tangan saya udah gandeng yang lain. Bisa ditebak kan, tangan lembut lemah gemulai yang otot aja cuma sebesar karet gelang bakalan gandeng tas plastik semua belanjaan dia.

Janji cuma sekedar janji, istri saya sama seperti ibu-ibu yang lain. Milih sayur udah kayak milih suami. Dipegang, diraba, dan diterwang. Muterin pasar nggak ada bosen-bosennya, saya sendiri jadi nggak abis pikir sama dia. Mau muter-muter pasar sampai kapan? Udah tahu kalau siang banyak pedagang yang pulang. Sekalinya ada yang jualan sayur masih aja mau banding-bandingin harga. Mau dibandingin sama siapa lagi?

“Kacang panjangnya Bu?”

“Kok kacangnya nggak seger gini?” Ini, saya aja yang nggak jualan ngerasa emosi sama istri saya. Kacang mana yang jam 2 siang masih seger. Kalau aja yang jualan kacang tadi makein make up  ke kacangnya mungkin aja masih bisa enak dilihat. Jadi muka si kacang panjangnya nggak pucet.

Yang nggak-nggak aja istri saya ini, nggak salah kalau dia saya juluki raja tega. Kalau dia udah ngadepin pedagang mukanya mendadak serius. Soal nawar harga dia udah jagonya, tipe istri kayak gini bisa membuat saya cepet kaya. Dia bisa nawar harga tanpa rasa bersalah, terkadang saya jadi nggak enak sendiri sama yang jualan.

Pulang siang perut kosong, nganter istri belanja di pasar.
Yang di anterin lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...aaaaaa banget belanjanya. Giliran saya ajak udahan belanjanya malah saya jadi yang salah.
“Aku laper, belanjanya udah ya?”
“Ayah, nggak cuma kamu yang laper. Aku juga laper” *Mata melotot.


Ohhh... ternyata laper bisa merubah orang, saya yang biasanya ganteng menawan dan penyabar jadi emosian. Istri saya yang biasanya emang galak, gara-gara laper galaknya nambah berlipat-lipat.

Artikel Terkait

Saya suka nulis hal-hal yang dianggap gak PENTING, selain nulis di blog saya juga sibuk ngajar di Sekolah Dasar. Jadi kalau ada yang mau FOLLOW blog saya janganlah malu-malu, karena saya juga akan memberikan FOLLBACK.
Baca profil lengkap saya DI SINI