23 Jan 2015

Galau Berat

Akhir-akhir ini saya merasa galau berat. Walaupun gak pernah saya timbang, berapa kilo berat galaunya. Cuma yang pasti, hati saya merasakan beban efek galau itu. Tiap hari berangkat sekolah selalu merasa ada yang berkecamuk di dalam hati saya. Bukan galau karena banyak hutang di kantin sekolah yang belum sempet saya lunasi, atau galau karena skandal percintaan yang melibatkan saya dan Pak Sahri penjaga sekolah yang mulai terendus banyak publik. Pak Sahrinya aja yang salah mengartikan kedekatan saya terhadap beliau. Kalau dilihat dari bibir imut Pak Sahri, memang membuat saya sempat merasa terhanyut. Tetapi saya selalu istighfar tiap melihat kumis tebal yang tumbuh subur di atas bibir imutnya.

“Astaghfirullah... ya Allah, jangan sampai aku berzina dengan makhluk bersingkong ini”

Gimana gak galau berat kalau tiap sampai disekolah, saya selalu melihat wajah-wajah siswa-siswi dan para temen-temen guru yang ada disini. Pokoknya semua yang ada disekolah ini dari hal yang terkecil sekalipun sudah mendapatkan tempat tersendiri di hati saya. Tanpa terkecuali TTMan saya, Pak Sahri.

Dalam waktu dekat ini saya akan pindah ke Jepara, walaupun belum ada keputusan final. Apakah saya akan bertahan atau akan meninggalkan sekolah ini. Tapi kemungkinan besarnya saya akan meninggalkan sekolah ini. Banyak hal yang membuat saya berat jika harus meninggalkan sekolah ini, dari lingkungan kerjanya yang harmonis, semua temen-temen yang saling dukung satu sama lain, kekompakan temen-temen dalam kegiatan belajar mengajar, rasa saling percaya temen-temen, siswa-siswinya yang lucu dan cerdas-cerdas, dan yang paling penting saya bisa ngutang dikantin.

Saya sendiri sudah menganggap temen-temen guru di sini seperti keluarga, itulah yang membuat saya betah disekolah ini. Kerja juga nyaman dan tenang. Dan mereka semua adalah mentor-mentor hebat saya, semuanya gak ada yang gak saya fans. Dari mereka semua saya banyak belajar, dari mereka semua saya merasa lebih bertanggung jawab, dari mereka semua saya mendapatkan pengalam berharga.
Untuk keahlian ngutang dikantin saya belajar otodidak tanpa ada yang mementori. Mungkin karena darah gembel saya yang mengalir deras.

Di sekolah ini saya merasa banyak dihargai, bukan berupa materi. Tahu sendiri status guru honorer itu kayak apa. Bahkan untuk nutup pengeluaran bensin aja gak bisa. Kalau berbicara soal materi yang didapat dari sekolah ini kayaknya sama aja kayak guru-guru honorer pada umumnya.
Cuma kepercayaan dari temen-temen guru di sinilah yang membuat saya merasa banyak dihargai. Saya merasa kalau kepercayaan itu harganya sangat mahal.

Persoalannya sekarang adalah, jika pindah di Jepara nanti saya harus mencari sekolah baru lagi. Padahal nyari sekolah sekarang gak semudah ngambil upil sapi yang dari kandangnya. Banyak sekolah yang udah punya guru olahraga.
Belum lagi penyesuaian lingkungan tempat tinggal baru. Saya harus memulainya dari nol lagi.

Selain mengajar, saya di rumah juga membuka usaha “tukang jahit”. Itu semua untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya dan istri.
Yang alhamdulilah berjalan lancar. Paling gak setoran keuangan untuk istri gak seret. “Tukang jahit” hanyalah ungkapan yang di berikan Bu Hani Rosyidah (Guru kelas 6) kepada saya.
Sebetulnya itu adalah ungkapan aja, bukan arti sebenernya. Boro-boro jahit baju, jahit luka dari mantan aja gak bisa-bisa. Ukapan “tukang jahit” disini artinya kayak tukang ketik. Cuma saya gak sampai punya tempat semacem ruko gitu. Biasanya orang-orang datang sendiri kerumah.

“Mas, tolong dong saya buatin data ini” Bapak-bapak berperawakan tinggi besar dengan nada lemah gemulai datang ke rumah.

“Oh... banyak juga ya Pak, ini saya ketik di kertas F4 apa di daun lontar Pak?”

“Di hatiku aja bisa gak?” *Kecup mesra

Saya benar-benar harus keluar dari zona nyaman yang selama ini membuat saya merasa tenang. Mungkin juga ini adalah jalan pembuktian juga untuk saya kepada kedua orang tua saya, kalau saya benar-benar bisa mandiri setelah memutuskan untuk menikah tahun kemarin. Dan saya sangat termotivasi karena istri saya selalu memberikan semangat.

“Ayo ayah!!! Kamu pasti bisa!!!” Dia bergaya seakan-akan chiliders sejati dengan dua ikat sayur bayam di kedua tangannya.

Seenggak-enggaknya jika saya benar-benar harus meninggalkan sekolah ini, saya sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk sekolah ini. Seperti yang saya katakan sebelumnya, bila kepercayaan itu sangat mahal harganya. Terkadang saya geli juga melihat ada temen sesama guru honorer yang mendapatkan tugas tambahan diluar mengajar selalu menolak dengan alasan-alasan yang menurut saya, terdengar  gak masuk akal dan basi banget.

Mereka gak nyadar kalau nyari tempat untuk mengajar sekarang ini terasa sangat susah. Harusnya mereka bersyukur bisa dapetin tempat untuk mengajar, karena gak semua lulusan-lulusan jurusan pendidikan langsung mendapatkan tempat untuk mengajar. Jadi guru honorer aja udah males, gimana entar kalau diangkat jadi PNS?
Bisa dibayangkan sendiri kinerjanya kedepan kayak apa.

Jadi, saya harus siap dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk kalau saya memutuskan keluar dari sini. Padahal ini adalah zona nyaman saya. Ya... saya rasa itulah yang dinamakan kehidupan, suka gak suka apa yang sudah ditakdirkan Allah saya harus tetap semangat menjalaninya. Pasti semua ini akan ada hikmahnya untuk keluarga kecil saya, dan saya yakin Allah tahu apa yang dibutuhkan saya untuk kedepannya nanti. Apapun itu, semoga inilah yang terbaik bagi saya, istri, dan keluarga saya.

Artikel Terkait

Saya suka nulis hal-hal yang dianggap gak PENTING, selain nulis di blog saya juga sibuk ngajar di Sekolah Dasar. Jadi kalau ada yang mau FOLLOW blog saya janganlah malu-malu, karena saya juga akan memberikan FOLLBACK.
Baca profil lengkap saya DI SINI