12 Agt 2014

Sensitif Gara-Gara PPL

Hallo!

Berita di tivi akhir-akhir ini masih ramai dengan tuntutan salah satu capres tentang pelanggaran pemilu. Sampai-sampai berita Marshanda yang di sekap di rumah sakit kalah ratting, padahal berita ini juga enggak kalah kerennya.
Yang saya takutkan sekarang masyarakat kita akan terpecah gara-gara masalah pemilu. Apakah masyarakat kita sudah cukup dewasa untuk bisa menyikapi problem kayak gini?

Kebetulan saat pilpres kemarin saya bertugas menjadi PPL (Pengawas Pemilu Lapangan) dan saya bersyukur di tempat saya bertugas tidak saya temukan kecurangan. Tetapi memang untuk pelanggaran memasang spanduk, poster, baliho, dan alat-alat peraga kampanye yang sejenis masih banyak sekali saya temui.
Seperti di pasang melintang di jalan protokol dan di pohon, di depan tempat ibadah dan di sekolah-sekolah.

Ini saya enggak ngerti sama yang masang alat peraga kampanyenya, maksud mereka itu apa coba?
Paling ngeselin kalau ada yang masang spanduk melintang di jalan dan ngiketnya di ujung pohon. Ini yang masang kurang ajar banget. Mau enggak mau saya juga yang mesti membersihkannya.



Enggak cuma itu, ada juga yang masang bendera partai di kuburan. Masangnya di ujung pohon. Pohonnya juga enggak main-main, dia milih pohon yang yang paling gede.
Biadab banget nih yang masang bendera, masang udah milih pohon paling gede dan di ujung, di tambah diiket disatu bambu utuh.

Untung aja jin penunggu pohonnya enggak uring-uringan karena beda dukungan. Yang di pasang bendera partai gambar kepala kambing, padahal jinnya dukung partai yang logonya burung celepuk.
Mau ditebang entar jinnya marah... mau manjat keatas pohonnya gede banget...
Hadeeeh...

Selama saya jadi PPL, perasaan saya menjadi lebih sensitif. Tiap malam kalau lihat orang yang lagi jalan, terus masuk di salah satu rumah warga saya jadi curiga.
Ini pasti politik uang. Yah... politik uang!!!
Kenapa dia cuma masuk kerumah tetangga saya, dia pikir saya enggak mau uangnya apa!!!
Setelah saya intai ternyata cuma orang yang mau pinjem cangkul.
Saya emang enggak punya bakat menjadi pengintai yang baik, sopan, dan rajin menabung.

Semakin mendekati hari H pilpres semakin intensif juga saya dalam bertugas mengawasi TPS-TPS. Karena ditakutkan akan ada pencurian kotak suara, manipulasi kertas sura, atau apapun itu istilahnya.
Momen-momen kayak gini biasanya ada jenis masyarakat yang berdo’a ada serangan fajar. Ni... jenis manusia kampret yang milih asal ada uang.

Semalaman dengan sengaja lampu rumah di nyalain dan pintunya di buka. Buat tanda kalau yang punya rumah masih siap menerima tamu dari jenis partai apapun.
Iya kalau yang datang relawan partai, kalau yang datang kolor ijo gimana?
Satu rumah bisa diamuk bareng-bareng sama kolor ijo.
Seenggak-enggkanya berdo’a dululah kalau yang masuk nanti kolor ijo, dia cuma pengen pinjem cangkul.

Tapi saya sangat bangga menjadi PPL karena saya bisa ikut serta secara langsung untuk mensukseskan pemilu pilpres tahun ini.
Semoga saja masyarakat kita enggak terpecah dengan adanya problem yang ada sekarang. Saya rasa kita harus tetap bersatu, kalau enggak mau  ditertawakan bangsa lain.




sumber gambar Google

Artikel Terkait

Saya suka nulis hal-hal yang dianggap gak PENTING, selain nulis di blog saya juga sibuk ngajar di Sekolah Dasar. Jadi kalau ada yang mau FOLLOW blog saya janganlah malu-malu, karena saya juga akan memberikan FOLLBACK.
Baca profil lengkap saya DI SINI