6 Jun 2014

Trending Topik #LAMONGAN

Baru saja kemarin tanggal 26 sampai 30 Mei saya menyelesaikan Pelatihan Kurikulum 2013. Iya, selama lima hari dari jam 07.00 pagi sampai jam 08.15 malam saya dan peserta pelatihan yang lain akan menggunakan otak untuk berpikir lebih serius lagi.

Selama ini pendidikan kita masih menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan akan digantikan dengan Kurikulum 2013. Makanya semua tenaga pendidik mendapatkan pelatihan agar dapat diterapkan dan berjalan dengan lancar di sekolahan masing-masing.

Tapi kali ini saya enggak akan cerita masalah Kurikulum 2013, karena kesannya terlalu serius untuk dibahas.

Jadi, seharusnya acara pelatihan Kurikulum 2013 kalau dihitung sesuai jadwal saya harus mengikutinya selama 5 hari. Tetapi saya enggak bisa full mengikutinya dikarenakan tanggal 28 Mei, SD saya mengadakan Dharmawisata di Wisata Bahari Lamongan (WBL) dan memang acara ini sudah direncakan sebulan lalu. Mau enggak mau saya harus ijin enggak masuk pelatihan demi anak-anak yang pipisnya konon masih harus dianter.

Okeh... itu adalah alasan yang masuk akal untuk ijin dari pelatihan.

Sebetulnya acara Dharmawisata sudah menjadi gosip hangat dikalangan anak-anak selama sebulan terakhir ini. Belum berangkat aja mereka udah ngobrol yang temanya WBL, enggak di kelas, di kantin, di perpustakaan, di lapangan, di toilet, dan enggak ada satu jengkal tempat yang terlewat untuk mereka ngebahas Dharmawisata. Kayaknya kasusnya Emon enggak cukup penting untuk mereka bahas bersama.

Setiap jam olahragapun pertanyaan yang mereka lontarkan untuk saya selalu tentang WBL selama satu bulan terakhir.

“WBL itu kayak apa Pak?”

“Jauh enggak Pak?”

“Pak Haris ikut enggak?”

“UGB ditahan ya Pak?”

“Telur sekilo harganya berapa Pak?”

Trending Topik #LAMONGAN

Belum berangkat aja udah jadi trending topik di sekolah. Padahal kalau ada acara Dharmawisata seperti ini saya agak males juga. Anak-anak sih senyum-senyum bahagia, lha saya sendiri?

Okeh... seperti pengalaman Dharmawisata tahun-tahun lalu, saya pasti akan jadi kurir kantong plastik untuk mereka yang pada mabuk. Saya yakin 251% senyum mereka enggak akan bertahan lama. Wajah mereka akan menghijau mirip Hulk yang pucat karena mabuk.

Dan aroma ikan segar bercampur kaos kaki sebulan yang enggak dicuci pasti akan saya rasakan di dalam bis selama beberapa jam kedepan.

Pagi itu, saat jam olahraga kelas 6. Saya mengumpulkan anak-anak di lapangan untuk memulai pelajaran. Mereka semua baris dan saya masih melihat anak-anak masih serius ngebahas tentang WBL. Rata-rata mereka ingin Dharmawisata tahun ini berkesan, jadi mereka semua serius ngebahas apa aja yang harus disiapkan nantinya.

Dasar anak-anak, baris aja masih sanggup ngegosip.

“Seandainya Dharmawisata di batalkan gimana?” Saya mencoba memberikan shock therapy untuk mereka semua.

Tiba-tiba obrolan mereka terdiam seketika, semua mata melihat tajam ke arah saya. Tanpa ada yang memberikan komando, seakan-akan mata mereka mengatakan sesuatu yang sangat menakutkan.

“Bakar Pak Haris sekarang juga”

“Kebiri aja”

“Serahin aja sama Emon, biar dipelihara”

Untuk mecairkan suasana yang semakin memanas, karena ngeri aja ngelihat ingus berjama’ah anak umur 12 tahunan. Saya mengalihkan topik pembicaraan.

“Ada yang bisa berenang?” Hari itu saya memang berencana menurunkan ilmu renang yang saya dapatkan saat kuliah. Walaupun enggak ada kolam renang, paling enggak mereka tahu tekhniknya dengan benar. Enggak asal lepas celana dan kaos, masuk kolam renang terus pipis di dalam kolam.

“Saya bisa Pak. Nanti kalau saya di WBL, saya bisa berenang sepuasnya Pak” Sambil tunjuk tangan ke atas, Dika nyeletuk dari barisan paling belakang.

Suasana kembali hening, sekarang semua pandangan anak-anak tertuju kepada Dika. Selain pintar Bahasa Inggris dan rajin menabung, Dika ternyata juga sudah pernah pergi ke WBL. Pasti itu yang mereka semua pikirkan.

“Dika sudah pernah pergi ke WBL?” Tanya saya. Jujur saya sendiri juga penasaran. Pengennya percaya dengan apa yang Dika katakan, tetapi kalau melihat wajah Dika yang suka ijin ke toilet saat pelajaran kepercayaan itu menjadi sebuah bayangan aja.

Sambil nahan ketawa “Belum Pak, Kakak saya yang bilang semalam”

Sekarang ketahuan siapa yang pantas dibakar?, siapa yang pantas dikebiri?, dan siapa yang pantas diserahin ke Emon?

Dasar anak toilet!!!

~~~

Karena jarak Purwodai ke Lamongan cukup jauh, kira-kira cukuplah untuk anak-anak ngeluarin semua cadangan pipisnya di SPBU yang kita lewati sepanjang perjalanan. Rombongan SD kami berangkat tepat jam 03.00 pagi. Ini benar-benar tepat waktu, enggak seperti yang saya pikirkan sebelum berangkat. Padahal saya nebak kalau berangkatnya pasti akan telat, tahu sendiri kan kebiasaan masyarakat kita.

Walaupun berangkat jam 03.00 pagi saya wajib tampil menawan di depan anak-anak. Bangun jam 02.00 langsung mandi untuk menghilangkan aroma ikan asinpun saya lakuin, saya takut ngecewain anak-anak kalau melihat wajah gurunya yang kayak kutu beras.

Semua anak-anak udah standbay di SD, tas yang di bawa rata-rata lebih besar dari pada ukuran tubuh mereka. Pagi ini benar-benar seperti ada acara evakuasi bencana alam.

Anak-anak di absen dan di hitung untuk memastikan jumlahnya pas dengan daftar yang sudah saya buat. Setelah dipastikan jumlahnya pas sesuai daftar, SD kitapun berangkat ke Lamongan.

Dan akhirnya pertempuran telah dimulai, perjalanan baru sampai Rembang beberapa anak udah ada yang mabuk perjalanan.

Antimo enggak mempan!!!

Kurir kantong plastik mulai beraksi!!!

Mereka anak-anak tengil yang biasa bikin ulah dan raja gaduh di dalam kelas enggak berkutik semua di dalam bis. Di atas langit masih ada langit, ternyata mabuk membuat mereka terlihat enggak maco lagi.

Beberapa jam disuguhi pertunjukan muntah sana muntah sini akhirnya tepat jam 12 siang rombongan kami tiba di WBL. Rombongan kami agak telat sampai di WBL siang itu. Kalau ingat perjalanan tadi, rasanya saya pengen lompat dari dalam bis.

Enggak cuma masalah anak-anak mabuk yang bikin saya pengen lompat dari dalam bis, tapi juga jalanan yang macet karena ada perbaikan jalan.

Oh Tuhan... hidup ini memang indah, seindah bentuk Antimo.

Kami semua turun dari bis dan langsung menuju Rumah Makan untuk makan siang, ganti baju, dan beribadah di sana.

Saya sendiri siang itu enggak sanggup lagi melihat nasi, dan memutuskan enggak makan. Yang saya butuhkan sekarang udara segar untuk menyegarkan pikiran saya dan memberikan sugesti yang saya buat sendiri.

“Lupakan kejadian tadi. Kamu akan kembali segar setelah mendengar tepuk tangan penonton. Antimo obat mabuk. Ingat Antimo obat mabuk"

Ya... sugesti Antimo obat mabuk bisa sedikit membantu menyegarkan pikiran saya (ini serius)

Sebelum masuk ke WBL, rombongan kami menuju Goa Maharani yang enggak jauh dari WBL. Tapi kita enggak bisa berlama-lama di dalam Gaoa Maharani karena memang tujuan utama kami adalah WBL. Sekitar satu setengah jam kami jalan-jalan melihat berbagai jenis hewan yang ada di Goa Maharani.

Langkah kami berlanjut ke WBL, ya... inilah tujuan utama kami.

Di depan pintu masuk anak-anak punya cara dan gaya masing-masing. Ada yang langsung nyari kelompok semacem geng tengil, ada yang heboh sendiri (seinget saya ini di lakuin siswi perempuan) mereka udah enggak inget lagi kalau umur mereka baru 12 tahun, ada yang stay cool dengan kacamata hitamnya (belakangan setelah saya tanya, ternyata dia nahan pup)

Handel anak-anak umur 12 tahunan di sebuah wahana yang sangat ramai itu enggak jauh beda kayak kita punya piaraan 100 bebek yang kita lepasin di sawah. Mata kita harus jeli, dan yang paling penting harus hafal muka murid sendiri. Karena di dunia ini terkadang kita akan menemui wajah yang mirip padahal enggak ada hubungan darah secara langsung.

Contoh nyatanya adalah banyak orang yang bilang kalau muka saya mirip banget dengan kedua orang tua saya (kalau ada yang mau bakar saya sekarang, saya persilahkan)

Di dalam WBL enggak banyak wahana yang saya coba, saya cuma nunggu anak-anak di depan pintu keluar aja. Jadi setiap anak-anak masuk ke salah satu wahana saya cuma nunggu di depan pintu keluar, agak merasa bosen juga sebenernya.

Semua wahana enggak ada yang bisa menarik perhatian saya. Ini antara enggak menarik dan cupu memang terlihat enggak ada bedanya.

Momen-momen seperti ini waktu terasa berjalan sangat cepat, enggak terasa sudah jam 04.30 aja. Setelah anak-anak saya suruh untuk ganti baju untuk persiapan pulang. Kami semua berkumpul dulu untuk mengabsen, karena enggak lucu kalau jumlah peserta Dharmawisata yang awalnya 51 anak malah berkurang. Atau yang lebih ngeri bertambah.

Sepertinya perjalanan pulang sore ini saya merasakan dejavu. Ya... kurir kantong plastik dan Antimo akan beraksi lagi.

Dharamawisata tahun ini meninggalkan banyak cerita. Ingat!!! sedia payung sebelum hujan. Sedia Antimo sebelum Dharmawisata. Sedia kantong plastik sebelum Antimo enggak mempan.

Artikel Terkait

Saya suka nulis hal-hal yang dianggap gak PENTING, selain nulis di blog saya juga sibuk ngajar di Sekolah Dasar. Jadi kalau ada yang mau FOLLOW blog saya janganlah malu-malu, karena saya juga akan memberikan FOLLBACK.
Baca profil lengkap saya DI SINI