19 Mei 2014

Biar Enggak Jadi Lumut, Butuh Jam Terbang

Hello!

Beberapa minggu disibukkan dengan kerjaan yang datang enggak diundang dan enggak mau diantar pulang. Dan inilah saatnya saya harus nulis sesuatu di blog agar blog saya ini enggak diadopsi oleh orang. Dari Try Out, Tes Semester kelas 6, Ujian Praktik, ikutan pusing bantuin temen sekantor dengan persiapan P.A.Knya, dan yang sekarang ini Ujian Sekolah kelas 6.

Dibandingkan 2 tahun lalu ketika saya baru masuk menjadi pengajar di SD ini, menurut saya tahun ini lebih menantang. Bahkan sampai menguras pikiran, keringat, dan jamban.
Mungkin karena bisa dibilang saya adalah seorang guru newbie di dunia pendidikan. Jadi Kepala Sekolah saat itu masih agak ragu untuk memberikan tugas tambahan yang bisa membuat bulu kaki saya rontok karena stres.

Apalagi saat ada Try Out atau Ujian Sekolah, belum pernah ada sejarahnya saya menjadi pengawas. Paling banter saya cuma anggota yang tiap harinya jadi lumut yang nempel di kursi kantor. Dengan muka standar bengong enggak ngapa-ngapain di dalam kantor membuat jati diri saya hilang gitu aja.

Saya sempet berpikir kenapa cuma saya aja yang kayaknya enggak punya kesibukan lain selain mengajar. Guru olahraga ngajar anak-anak paling mentok jam 9 atau jam 10 pagi. Selesai itu mau pulang juga enggak enyak, mau ngegembel lontang-lantung di kantor juga enggak enyak, pipis juga terasa enggak enyak. Seingat saya yang terasa enak cuma pas ada makanan gratis di kantor.

Ngomong-ngomong soal makanan gratis, seminggu yang lalu saat anak-anak kelas 6 Ujian Praktik memasak saya menjadi salah satu guru penilainya. Enggak tahu apa yang dipikirkan oleh Kepala Sekolah mencantumkan nama saya sebagai guru penilai. Saya jadi berpikir yang enggak-enggak.

1. Mungkin karena muka gembel saya.
2. Saya membutuhkan banyak protein.
3. Doraemon doyan makan dorayaki bukan doyan anak kecil (lho...?)
4. Son Goku makan kacang dewa agar gak kelaperan (lho kok...?)

Dari pagi anak-anak udah terlihat antusias menyiapkan segala hal yang dibutuhkan. Mereka terbagi menjadi 4 kelompok yang siap bertarung lewat masakan. Saya bertugas menilai hasil kreasi mereka, itu artinya saya harus mencicipi semua masakan tanpa harus ada yang didiskriminasi.
Ini bukan modus makan gratis ala gembel.

Singkat cerita, setelah 4 kelompok ini menata hasil masakan di atas meja dengan pernak-pernik ala restoran. Dan inilah saatnya saya yang beraksi.
Kalau mencicipi satu menu dengan satu sendok belum terasa mungkin bisa dicoba dengan satu piring. Pasti langsung kerasa dan ketahuan nilainya.

Saya merasa kayak Chef Marinka.
Ehmmm... maksudnya Chef Juna yang cool tapi tetep cucok!!! (100% saya adalah laki-laki tomboi yang normal)
Kelompok 1 sampai 4 enggak ada yang saya lewati dengan percuma, bermodal satu piring dan satu sendok kaki dan tangan saya mulai begerak dengan lincah dari meja 1 sampai meja 4.

Masih ada yang berpikir ini hanya modus?
Bayangkan saja, setiap makan masakan istri aja saya masih merasa was-was. Makan masakan orang yang lagi belajar masak itu sama kayak dihadapkan 2 pilihan. Kamu menolak dan mati kelaperan atau kamu mati karena keracunan.

Ini yang masak bocah umur 12 tahunan.
Mereka bisa membedakan antara merica bubuk sama bubuk mesiu apa enggak?
Cabai-cabain dan terong-terongan apa yang cocok untuk selera guru penilainya?
Entahlah mungkin dengan membaca do’a sebelum makan bisa membuat umur saya sedikit tertolong.

Dari kelompok 1 menu nasi goreng, kelompok 2 opor ayam, kelompok 3 pecel lele dan sayur bayam, kelompok 4 nasi tumpeng.
Saya melihat muka murid-murid yang tegang semua, pasti bukan karena masakannya enggak enak. Tapi karena mereka berdo’a agar racunnya benar-benar bekerja.
Tanpa harus ada uji validitas, realibilitas, dan rumus R-OH dimana R- adalah gugus alkil dan -OH adalah gugus hidroksil. Udah  jelas makanan yang paling nyus, dan membuat lidah saya tidak berhenti bergoyang morena adalah kelompok 3 dengan pecel lele dan sayur bayamnya.

Inilah Pemenangnya
Enggak salah Kepala Sekolah memberikan tugas saya menjadi penilai, soal rasa lidah gembel emang enggak bisa bohong.
Beliau tahu sisi kecerdasan yang lama terpendam di dasar tanah dan hampir menjadi minyak bumi. Ibarat pelatih sepak bola, beliau memberikan kepercayaan kepada pemain mudanya dengan menambah jam terbang.

Struktur Organisasi Tahun Ajaran 2012/2013
Saya sudah mengalami 3 kali pergantian Kepala Sekolah, tanpa ada maksud untuk mebanding-bandingkan. Yang ke-3 ini membuat perkembangan sangat berarti untuk saya pribadi. Walaupun beliau mempunya rambut yang minimalis, tetapi beliau sangat cerdas, tanggap, siap antar jaga (yang terakhir abaikan)
Selain mengajar sekarang saya dipercaya untuk mengurusi administrasi sekolah, dan setiap ada ujian walaupun saya masih belum juga bisa merasakan menjadi pengawas tetapi saya sekarang menjadi skretaris dalam kepanitiaannya.

Ah... akhirnya derajat saya sedikit naik dari lumut yang nempel di kursi kantor menjadi juru ketik. Sangat senang rasanya saya bisa melakukan hal yang lebih diluar mengajar. Lembur pulang sore atau pulang siang tapi sorenya balik lagi ke SD karena dapet SMS dari Kepala Sekolah untuk membantu beliau menyelesaikan urusan administrasi yang belum fix menjadi hal biasa untuk saya. Saya hanya ingin membuktikan kalau SD ini enggak salah telah menerima saya sebagai tenaga pendidik di sini.

Semua ini juga menambah pengalaman pribadi untuk saya, enggak semua Wiyata Bhakti bisa menjadi pengaruh besar di SDnya. Saya bukan masuk golongan orang yang gila sanjungan gara-gara sok rajin. Saya hanya ingin membuktikan pada semua orang kalau saya ini mampu mengemban tugas yang diberikan atasan.

Dulu saat saya ikut tes CPNS di Kudus Bu Hanik salah satu temen guru bertanya kepada saya, dan pertanyaan itu membuat saya jadi terharu sampai pengen pipis. Waktu itu memang kita semua sedang berkumpul di kantor karena jam istirahat.

“Entar kalau kamu keterima di Kudus, gimana dengan SD ini Dik?”

Saya cuma bisa senyum dan enggak bisa menjawab pertanyaan dari Bu Hanik.
Saya jadi bingung, apa sebegitu berartinya saya untuk SD ini?

Apa SD ini masih membutuhkan tenaga saya?

Siapa yang bertanggung jawab dengan hutang-hutang saya di kantin? (lagi-lagi jiwa gembel)

Siapa yang akan mebersihkan toilet SD kalau enggak ada saya?

Siapa yang akan membuka pintu kelas kalau enggak ada saya? (ini guru apa penjaga sekolah?)

“Kalau enggak ada kamu kita bisa kerepotan Dik” Tiba-tiba Bu Zaimah menimpali pertanyaan Bu Hanik.

Ternyata hal kecil yang saya lakukan selama ini malah menjadikan mereka semua merasa sangat berarti. Walaupun pada akhirnya saya kembali ke SD ini karena saya belum bisa lolos tes CPNS di Kudus. Tapi hal positif yang saya dapatkan adalah saya bisa kembali lagi dengan mereka dan duduk bersama-sama lagi di kantor. Mereka semua adalah keluarga dan tim kerja yang luar biasa. Dan saya masih bisa bertemu dengan anak-anak setan (maaf, maksudnya murid-murid saya yang lucu-lucu kayak setan) *tetep.

Saya sadar kalau kepercayaan itu sangat mahal harganya, dan saya enggak akan mau kembali menjadi lumut yang nempel di kursi kantor.

Artikel Terkait

Saya suka nulis hal-hal yang dianggap gak PENTING, selain nulis di blog saya juga sibuk ngajar di Sekolah Dasar. Jadi kalau ada yang mau FOLLOW blog saya janganlah malu-malu, karena saya juga akan memberikan FOLLBACK.
Baca profil lengkap saya DI SINI