19 Apr 2014

Perempuan Itu...?

Hello!

Tanggal 21 April itu memperingati hari apa coba? Siapa yang tahu?

Yup! Kita akan memperingati hari Kartini, dan biasanya di sekolah-sekolah akan merayakannya dengan cara memakai pakaian kebaya (termasuk sekolah dimana saya mengajar). Tapi jangan berpikir kalau anak-anak perempuan dan laki-laki memakai kebaya semua. Anak laki-laki akan memakai pakaian adat, kayak semacem pakaian beskap contohnya.
Perayaan hari Kartini gak cuma dirayakan oleh anak-anak perempuan, karena siswa kami yang takdirnya disunat juga gak kalah antusiasnya untuk mempersiapkan penampilan mereka.

Memang tahun kemarin di sekolah diadakan acara perayaan hari Kartini, tapi untuk tahun ini belum ada kejelasan yang pasti. Karena ditanggal 21 April ternyata kelas VI akan ada UUS.

***

Sebenernya dulu saya gak paham, hari Kartini itu saya  harus ngapain.
Apakah setiap saya bertemu mereka (para perempuan) harus memberikan ucapan selamat?
Apakah saya juga harus bangun pagi-pagi untuk antri di salon untuk dimake up, nyewa kebaya dan berkonde?

Lambat tahun setelah saya menikah, sedikit demi sedikit saya jadi mengerti. Hari Kartini gak cuma untuk dirayakan, gak cuma makai kebaya, tetapi kita semua di ajak meneladani Ibu Kita Kartini yang memperjuangkan kesetaraan dan persamaan hak perempuan. Bahasa kerennya emansipasi wanita.

Dulu saya berpikir perempuan itu makhluk yang lemah, manja, nyusahin, ngeribetin, pengganggu kemerdekaan. Tapi sekarang?
Melihat istri saya yang alhamdulilah 100% perempuan tulen tanpa ada jakun di lehernya dan sudah berlebel halal dari KUA dengan tidak ada batas expirednya. Saya jadi paham, bahwa semua perempuan adalah Kartini (termasuk istri). Mereka para perempuan (lagi-lagi termasuk istri) adalah makhluk yang kokoh, kuat, dan terpercaya. Bahkan lebih kuat dan kokoh dari semen Tiga Roda.

Manja, nyusahin, ngeribetin, dan pengganggu kemerdekaan? Itu semua adalah anugrah yang di berikan oleh Tuhan yang tidak di berikan kepada laki-laki.
Sekarang bayangkan saja kalau sifat manja, nyusahin, ngeribetin, dan pengganggu kemerdekaan juga di anugrahkan Tuhan untuk laki-laki?
Besok pagi pasti dajal udah jalan-jalan di depan rumah.

Padahal kita udah tahu kalau perempuan punya sifat kayak gitu, tapi masih juga mau pacaran dan bahkan menikah dengan mereka.
Sudah berapa banyak laki-laki  di bumi ini yang pensiun dini dari dunia perfutsalan?
Bukan karena cidera, tapi semua itu karena demi menenangkan hati para perempuan.

Itu membuktikan kalau perempuan itu mampu membuat kita percaya kalau mereka itu kuat, gak manja, gak nyusahin, gak ngeribetin, dan bukan pengganggu kemerdekaan (walaupun terkadang itu semua terasa salah).

Mereka adalah perempuan
yang mampu merubah
status tersangka menjadi korban
Perempuan itu otak dan perasaannya gak pernah nyambung dan sangat misterius. Insting perasaan mereka lebih tajam dari silet.
Dan saking misteriusnya kalau kentut di tempat umum gak bakalan ada yang berani nuduh. Pasti yang di tuduh adalah sosok laki-laki yang ada disekitaran mereka.
Mereka akan mengeluarkan expresi tenang, elegan, dan berpikir sedang tidak terjadi apa-apa. Dan mereka akan meninggalkan TKP tanpa harus berjalan mengendap-endap ataupun menyamar (perfect).

Padahal aroma kentut mereka gak kalah najisnya dengan aroma tumpukan limbah bulu ayam potong. Tapi kenapa mereka mempunyai kekuatan untuk memanipulasi suatu keadaan yang harusnya mereka adalah tersangka malah menjadi korban?
Sebetulnya jawabannya simpel, itulah pembuktian mereka. Kalau mereka ini adalah sosok yang kuat dalam segala hal dan kondisi.

Saya pernah mengalami suatu kondisi yang membuat otak saya yang awalnya full menjadi mendadak lowbat.
Jadi saat itu istri saya yang sedang memasak sayur asem karena dia tahu muka suaminya yang lemah gemulai karena udah kelaparan.
Dia terlihat percaya diri dan sepenuh hati memasak sayur asem (kelihatannya sih gitu, atau dia sedang acting?).
Gak membutuhkan waktu lama bahkan harus nunggu beratus-ratus episod, saya dengan hati yang senang, riang, gembira langsung menyiapkan piring beserta teman-temannya.

Dalam hati saya berharap perut saya yang sudah meronta-ronta tak berdaya akan diisi masakan yang bisa membuat pikiran dan perut menjadi tenang.
Tapi memang terkadang kenyataan itu sangat menyakitkan.

Saya mengambil nasi dan sayur asem yang terlihat sedap di mata. Baru satu suap masuk mulut dan akhirnya ada pertanyaan yang membuat saya di hadapkan dua pilihan yang sulit.
  1. Mati sekarang atau,
  2. Hari ini hidup tapi besok mati kelaperan.
“Masakanku enak gak?” Dengan muka manjanya, membuat pertanyaan itu terasa sulit.

“Balance” Saya menjawab dengan pikiran yang gak fokus.

“Maksudnya lumayan enak?” Perlahan otot kuli istri saya samar-samar udah mulai terlihat.

“Hmmm… ya balance, gak asem, gak pedes, gak gurih, pokoknya gak banget deh…” Sudah bisa dipastikan nyawa saya sekarang ada di tangan istri.

“-__-“

Dari pengalaman pribadi tadi, bisa dijadikan bukti nyata kalau perempuan mampu menjadikan laki-laki mengakui kelemahannya dan merasa tidak berdaya di depannya.
Kalaupun menjawab “Hmmm… masakanmu perfect”
Mau sampai kapan bilang perfect? Kalau abis makan nyari-nyari jamban, dan keesokan harinya mati di atas jamban karena kelaparan.

Maka janganlah menganggap perempuan itu lemah dan bisanya cuma manja, nyusahin, ngeribetin, pengganggu kemerdekaan. Dengan cara mereka sendiri, akan bisa menutupi itu semua. Dan percayalah mereka itu sangatlah kuat.

Artikel Terkait

Saya suka nulis hal-hal yang dianggap gak PENTING, selain nulis di blog saya juga sibuk ngajar di Sekolah Dasar. Jadi kalau ada yang mau FOLLOW blog saya janganlah malu-malu, karena saya juga akan memberikan FOLLBACK.
Baca profil lengkap saya DI SINI